Gubernur DIJ Sultan Hamengku Buwono (HB) X mengimbau masyarakat tetap tenang dalam menyikapi aksi penyerangan Gereja Stasi Bedog. Dan tidak perlu takut saat menjalankan peribadatan. HB X berkomitmen, keamanan masyarakat saat menjalankan ibadah lebih terjamin di kemudian hari.

“Bersama aparat kepolisian kami sepakat melindungi seluruh umat beragama yang sedang beribadah. Tidak hanya saat perayaan hari raya, tapi juga ibadah mingguan seperti misa pagi,” ujar HB X usai menjenguk Romo Prier di RS Panti Rapih tadi malam Minggu (11/2).

HB X menegaskan, penyerangan di Gereja Stasi bukan cerminan karakter masyarakat Jogjakarta. Gubernur meyakini, warga Jogjakarta menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan kerukunan. “Peristiwa ini tak boleh terulang lagi, baik di Jogjakarta maupun Indonesia,” lanjutnya.

Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko turut mengimbau masyarakat agar kejadian yang menimpa jemaat Gereja Stasi menjadi momentum untuk kembali memperteguh semangat kebersamaan dan kedamaian antarumat beragama.

Sementara Kapolda DIJ Brigjen Pol Ahmad Dofiri tak ingin berspekulasi kemungkinan pelaku penyerangan Gereja Stasi terlibat jaringan terorisme Indonesia. Kendati demikian, kasus ini menjadi catatan serius kepolisian untuk lebih waspada. “Sementara ini kami fokus penanganan pelaku dulu. Informasi detailnya masih simpang siur,” ucapnya.

Komandan Korem 072/Pamungkas Kolonel Kav Muhammad Zamroni siap mendukung Polda DIJ dalam penuntsan perkara ini. “yang terpenting saat ini tingkatkan kewaspadaan. Informasi sekecil apa pun segera sampaikan kepada aparat,” pintanya.

Guna meminimalisasi aksi kekerasan, Bupati Sleman Sri Purnomo mengimbau pengurus tempat-tempat peribadatan memasang kamera CCTV. Agar semua pergerakan dan aktivitas di sekitar tempat ibadah terpantau. Terutama tempat ibadah di pinggir jalan. “Jadi kalau ada hal-hal yang mencurigakan bisa terpantau. Apakah pelaku sempat mondar-mandir sebelumnya sehingga bisa ada langkah preventif,” tuturnya.

Kepala Kanwil Kemenag DIJ M. Lutfi Hamid menjamin kerukunan antar umat beragama di Jogjakarta tetap terjaga. Meski melukai semangat kebersamaan, kejadian tersebut diyakininya tidak menggoyahkan persatuan.

Lutfi meminta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DIJ menggandeng seluruh tokoh dan pemuka agama. Untuk mencegah terjadinya salah persepsi atas penyerangan Gereja Stasi. Terlebih pelaku bukan warga Jogjakarta.

“Saya bersyukur karena kasus ini disikapi sebagai insiden. Namun, seluruh elemen masyarakat harus menahan diri. Jangan berspekulasi hingga penyebab sesungguhnya terungkap,” pesannya.

Dia juga mewanti-wanti masyarkat untuk mengantisipasi berembusnya isu tendensius. Jangan sampai kasus kekerasan menjurus SARA. (dwi/yog/mg1)