PENYERANGAN Gereja Santa Lidwina Stasi Bedog mengundang reaksi keras tokoh-tokoh agama dan nasional di Jogjakarta.

Tokoh Muhammadiyah Buya Syafi’i Maarif segera meluncur ke gereja yang berlamat di Jalan Jambon, Trihanggo, Gamping, Sleman, begitu mendengar ada aksi penyerangan. Kejadian itu sungguh membuatnya kecewa. Apalagi lokasi gereja yang tak jauh dari tempat tinggalnya selama ini tergolong kondusif. Selama berdomisili di wilayah tersebut, Buya mengaku tak pernah mendengar tindakan anarkistis separah itu. “Kok di sini itu lho, motifnya apa. Selama ini tidak pernah ada persoalan, baik lingkup umum maupun antarumat beragama,” katanya sambil meninjau tempat kejadian perkara (TKP).

Dengan tegas Buya Syafi’i menilai aksi penyerangan tersebut sebagai bentuk terorisme. Aksi Suliyono, pelaku penyerangan asal Banyuwangi, Jawa Timur, telah mencederai semangat Bhinneka Tunggal Ika. “Tindakannya (Suliyono, Red) biadab dan tidak bisa dimaafkan,” ujarnya.

Bagi Buya, tak ada langkah selain menindak tegas dan mengusut tuntas aksi tersebut. Sampai ke akar-akarnya. Ini menjadi ujian bagi kepolisian untuk mengungkap latar belakang tindakan pelaku. Apakah bergerak sendiri atau ada kelompok tertentu di belakangnya.

Di lokasi lain Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DIJ Ponijan menyoroti reaksi masyarakat di dunia maya. Dia mengimbau warganet tidak memperkeruh suasana dengan berkomentar yang macam-macam. “Karena sekarang sosial media kencang sekali dan komentarnya macam-macam. Itu tidak menyelesaikan masalahnya dan justru memperkeruh kondisi,” katanya.

Lebih lanjut Ponijan berharap warganet tidak mengunggah foto-foto atau video saat kejadian. Karena hal itu juga berpotensi memperkeruh situasi.

Ketua Alumni Lemhanas DIJ Sugiyanto Harjo Semangun turut berkomentar menyikapi tragedi berdarah Gereja Stasi Bedog. Yang membuatnya miris, kejadian itu bertepatan dengan peringatan hari lahir lambang negara Garuda Pancasila. “Berbagai aksi intoleransi dan kekerasan itu jelas mengingkari nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya di Titik Nol Kilometer Jogja.

Untuk mencegah terjadinya aksi intoleransi Sugiyanto mengajak seluruh masyarakat kembali belajar pendidikan Pancasila. Dia juga meminta pemerintah mengajarkan ilmu Pancasila di semua jenjang pendidikan, mulai PAUD hingga Perguruan Tinggi.

Sementara itu, melalui surat keterangan pers, Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang FX Endra Wijayanto mengutuk keras aksi kekerasan di Gereja Stasi Bedog kemarin pagi. Apalagi penyerangan dilakukan saat misa ekaristi, yang merupakan perayaan puncak dalam Gereja Katolik. Penyerangan terhadap Romo Prier dan jemaat lain, menurut Endra, menambah duka di tengah keprihatinan situasi Jogjakarta beberapa waktu terakhir ini.

Karena itu dia mendesak aparat keamanan dan pemerintah memberi perlindungan kepada jemaat Gereja Stasi Bedog agar bisa menjalankan peribadatan dengan rasa aman tanpa gangguan. Baik di dalam gereja maupun masyarakat. “Kami menyerukan kepada aparat untuk mengusut tuntas kasus Gereja Stasi dan menyelidiki sampai ke akar-akarnya,” ujarnya dalam pers rilis tertanggal 11 Februari 2018.

Endra juga mendesak aparat tidak mendiamkan begitu saja berbagai kasus kekerasan serupa. Tapi harus bisa membawa setiap pelaku kekerasan ke muka pengadilan. Agar mendapatkan hukuman setimpal.

“Aparat juga harus proaktif dan bertindak tegas mengantisipasi gangguan keamanan yang terjadi guna mencegah terulangnya kasus serupa di tempat lain,” lanjutnya.

Menurut Endra, aparat keamanan juga harus berjuang menjaga hak-hak dasar warga negara Republik Indonesia tanpa kecuali, sebagaimana terkandung dalam nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Dengan memberikan jaminan perlindungan yang sama dalam kebebasan beragama dan beribadah.

Kepada aparat sipil negara, Endra berharap, segera melakukan langkah cepat menciptakan sistem yang efektif untuk mencegah terulangnya kasus-kasus serupa.

Melalui surat tertulis tersebut Endra turut mengapresiasi kesiapsiagaan aparat setempat, umat Katolik Gereja Stasi Bedog, dan warga di sekitarnya. Sehingga pelaku bisa dilokalisasi di dalam gereja dan tidak menimbulkan korban lebih banyak. Serta situasi keamanan bisa kembali pulih.

Endra juga menyerukan seluruh umat Katolik untuk bersikap tenang, menahan diri, dan bijaksana menghadapi situasi tersebut. “Kami mohon agar umat turut berkontribusi menjaga kondisi dengan tidak memperbesar isu yang justru akan kontraproduktif bagi penanganan kasus ini,” pintanya. Permohonan serupa ditujukan bagi masyarakat dalam bermedia sosial. Agar tetap memelihara situasi keamanan dan tidak memperkeruh situasi.

Kepada warga DIJ dan masyarakat Indonesia secara umum, Endar berterima kasih atas dukungan dan ungkapan simpati atas tragedi Gereje Stasi Bedog. Dia mengajak seluruh masyarakat Indonesia bergotong royong membela NKRI, nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.(dwi/pra/yog/mg1)