“Masuk dari pintu barat, saat itu pelaku sudah mengayunkan pedang ke beberapa jemaat. Jeritan terdengar di seantero ruang ibadah,” ungkap Sukatno saat berbincang dengan Radar JogjaMinggu (11/2).

Darah berceceran di lantai gereja. Tiga jemaat dan Romo Prier yang memimpin misa tumbang dengan luka di kepala. Masih segar dalam ingatan Sukatno suasana menegangkan itu.

“Suara gaduh terdengar setelah Romo turun dari mimbar usai memberi penghormatan kepada salib. Tengok ke belakang ternyata pelaku sudah mengacungkan pedang,” ceritanya.

Saat pelaku membacok beberapa jemaat, Sukatno segera menyelamatkan diri. Dirinya juga memerintahkan jamaah keluar melalui pintu sayap utara dan selatan. “Pelaku tampaknya sendirian,” lanjutnya.

Sukatno sempat melihat beberapa jemaat berusaha menolong Romo Prier. Menurut Sukatno, saat tragedi tersebut sebenarnya ada anggota polisi di dalam gereja. Tapi, dia tak bersenjata. Sehingga tak bisa berbuat banyak. Hingga datang Aiptu Munir dari Polsek Gamping.

“Pelaku lantas dipojokkan di mimbar gereja agar tidak menyerang jamaat lain. Dia disolasi oleh jamaat dan warga sekitar sini,” ungkapnya.

“Polisi sudah memberikan tembakan peringatan, tapi pelaku malah menyerang petugas. Akhirnya pelaku dilumpukan, ditembak langsung,” lanjut Sukatno.

Peristiwa berdarah itu tak hanya membuat Sukatno trauma. Demikian pula jemaat gereja lainnya. “Meskipun tragedi itu terjadi hanya lima menit,” katanya.

Sukatno hanya bisa berharap. Agar aparat keamanan dan pemerintah lebih menjamin keamanan dan kekhusyukan jemaat yang sedang beribadah. Secara terbuka Sukatno minta perlindungan dan jaminan negara atas peristiwa tersebut. “Biasanya kalau misa tertentu ada anggota Banser NU (Nahdlatul Ulama, Red) ikut menjaga keamanan,” tuturnya. (yog/mg1)