JOGJA – Ki Bagus Hadikusumo telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional sejak 2015. Dia berperan dalam memutuskan pembukaan UUD 1945 saat sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) 18 Agustus 1945.

Ki Bagus bersedia menerima penghapusan tujuh kata di Piagam Jakarta 22 Juni 1945 setelah melalui perdebatan yang panjang. Semula dalam Piagam Jakarta itu tertulis kalimat Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.

Tujuh kata itu kemudian dihapus dan diganti menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Teks itulah kemudian tertuang dalam pembukaan UUD 1945 dan sila pertama Pancasila. Kenegarawan Ki Bagus itu diangkat dalam fim pendek bertajuk “Toedjoeh Kata” tentang Sejarah UUD 45.

Film itu diputar dalam acara nonton bareng (nobar) ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIJ pada Jumat malam (9/2) lalu.

Film pendek itu mengungkapkan peristiwa di balik perubahan teks piagam Jakarta. Nobar itu menjadi bagian dari sosialiasi empat pilar. Anggota DPD RI Afnan Hadikusumo tampil menjadi salah satu narasumber. Senator asal DIJ itu tercatat merupakan salah satu cucu Ki Bagus.

“Pancasila sesungguhnya pengorbanan umat Islam. Sebagai umat mayoritas bersedia menghilangkan tujuh kata di Piagam Jakarta,” kata Afnan.

Di mata dia, film pendek itu memberikan keteladanan tentang toleransi umat beragama. Saling menghormati dan saling memberi. Ki Bagus juga mengajarkan cara memegang prinsip yang teguh.

Termasuk bagi pejabat penyelenggara negara harus memegang prinsip tak mudah terpengaruh hanya karena iming-iming materi. “Berbahaya kalau punya wakil rakyat yang tidak bisa memegang prinsip,” ingatnya.

Pemutaran film pendek itu memang menyasar segmen anak muda. Lewat nobar itu, Afnan yakin pesan tentang Pancasila, toleransi dan keberagaman lebih mudah dipahami generasi.

Penulis naskah film Toedjoeh Kata Nada Nadia mengaku sebelum menggarap film berdurasi 20 menit lebih dulu melakukan riset. Di antaranya, studi pustaka ke arsip negara, wawancara sejumlah sejarawan dan keluarga Ki Bagus. “Film kami buat selama 2,5 bulan dan diluncurkan Mei 2017,|” katanya.

Ki Bagus lahir di Kauman Jogja pada 24 November 1890 dengan nama Raden Hidayat. Dia anak ketiga dari lima bersaudara. Ki Bagus memimpin Muhammadiyah dari 1944-1954. “Kebesaran jiwanya bersedia menghapuskan tujuh kata semata-mata demi menjaga persatuan bangsa patut diteladani,” ucap Nadia. (kus/ila/mg1)