JOGJA – Notaris Yuasri mengajukan permohonan perlindungan hukum ke Kapolda DIJ. Ini menyusul kondisinya merasa terancam dikriminalisasi setelah adanya upaya penggeledahan dan penyitaan sertifikat dan uang di kantornya di daerah Ngadinegaran, Mantrijeron, Jogja.

“Kami merasa keberatan dengan langkah penyidik Polda DIJ,” ungkap Yunasri di kantornya saat menggelar keterangan pers Sabtu (10/2) lalu.

Tindakan polisi itu dilakukan setelah menerima laporan dari Muchammad Zakaria (MZ) yang mengadukan Barori dan Marjono sebagai penjual tanah SMA “17” di Bumijo Jalan Tentara Pelajar, Jogja. MZ berstatus sebagai pelapor. Kini Barori dan Marjono ditetapkan sebagai tersangka.

“Kami tidak kenal dan tak pernah bertemu dengan Muchamad Zakaria,” ujar Yuasri didampingi penasihat hukumnya Ary Nur Prabowo SH. Selama proses hukum berjalan, Yuasri telah dua kali diperiksa sebagai saksi oleh penyidik Polda DIJ.

Ary menerangkan, laporan MZ ke Polda itu merupakan peristiwa yang tidak ada sangkut pautnya dengan kliennya. Itu buntut perikatan jual beli (PJB) yang berlangsung di Purwokerto, 17 Februari 2012. Sedangkan kliennya memproses akta PJB dan surat kuasa di kantornya pada 6 Mei 2013.

PJB yang ditangani Yuasri pernah dilaporkan Riyono Adi Susanto ke Polresta Jogja. Namun penyidikan perkara itu dihentikan dengan terbitnya surat penghentian penyidikan (SP3) oleh Kapolesta Jogja Kombespol Pri Hartono Eling Lelakon pada 22 Desember 2015. “Saat itu Kapolda DIJ dijabat Brigjen Pol Erwin Triwanto,” ungkap Ary.

Dia mempertanyakan disidiknya perkara yang telah dihentikan dengan SP3. Apalagi pelapornya pihak ketiga yang tidak ada kaitannya dengan PJB yang dibuat kliennya. “Bukankah ini nebis in idem,” katanya.

Di sisi lain sengketa perdata tanah SMA “17” itu masih berjalan di Pengadilan Negeri (PN) Jogja dan PN Bantul dan belum ada kekuatan hukum bersifat inkrach atau mengikat.

Yunasri juga meminta perlindungan hukum kepada ketua PN Jogja, Kapolri, Irwasum, ketua Komisi Yudisial, Ombudsman RI Perwakilan DIJ dan beberapa lembaga negara lainnya. (kus/laz/mg1)