MUNGKID – Keutuhan ruas jalan alternatif Salaman-Borobudur lewat Desa Ngargoretno, semakin terancam. Tanah longsor sudah mulai mengikis bagian aspal. Jika sampai putus total, warga pun harus memutar jalan sekitar 7 km.

Tidak hanya digunakan sebagai akses pendidikan. Jalan itu juga jadi akses warga di bidang ekonomi dan lainnya. Selain menghubungkan sekolah satu ke sekolah yang lain, ruas jalan tersebut juga menghubungkan antarpasar tradisional.

“Untuk jalan (Salaman-Borobudur) mulai terkikis,” kata salah seorang relawan Leo Superego Minggu (11/2). Sebelum terkikis, ruas jalan ini diketahui sudah mengalami retak-retak. Semakin hari retakan tanah semakin melebar.

Hujan yang mengguyur kawasan Perbukitan Menoreh beberapa waktu belakangan, menambah penyebab jalan semakin terkikis. “Tanah yang sebelah kanan rumah sudah turun mendekati sungai,” jelasnya.

Selain mengancam keutuhan jalan, tanah bergerak di kawasan Menoreh juga menyasar rumah warga Tugiran, Dusun Selorejo, Ngargoretno. Mulai beberapa hari lalu, tanah retak semakin mengkhawatirkan. Di ruas jalan yang terancam, sudah dipasang rambu-rambu untuk berhati-hati. “Motor tetap nekat lewat, asal tidak hujan,” tambah Shoim, Ketua Relawan Garuda Bukit Menoreh.

Kepala Desa Ngargoretno Dodik Suseno mengatakan, desanya merupakan kawasan rawan bencana tanah longsor. Dari enam dusun yang ada, semuanya berada di kawasan perbukitan dan berpotensi terjadi bencana tanah longsor.

“Desa kami merupakan daerah rawan potensi bencana. Dari sekitar 900 KK, 60 persennya tinggal di daerah rawan,” ungkapnya.

Pergerakan tanah yang terjadi saat ini mengancam ruas jalan penghubung Salaman-Borobudur. Bahkan jika sampai jalan terputus karena longsor, warga di Dusun Gayam terancam terisolasi.

“Sebagian warga di Dusun Karangsari, Selorejo, dan Gayam bisa terisolasi. Ada sekitar 200 warga yang terancam. Jika sampai putus, mereka harus memutar melintasi Borobudur memutar sekitar 7 km,” ungkap Dodik.

Kades selalu mengimbau kepada warganya untuk waspada. Mengingat di musim penghujan, potensi bencana masih terus ada. Imbauan itu disampaikan saat momen pertemuan-pertemuan di masyarakat.

“Selokan warga untuk dicek, karena tanah longsor pemicunya air. Saya ingatkan terus kepada warga untuk waspada,” katanya. (ady/laz/mg1)