GUNUNGKIDUL – Belakangan, kepolisian disibukkan memonitor aktivitas dakwah warga negara asing (WNA) India. Mereka melakukan dakwah dari desa ke desa di Gunungkidul.

Kegiatan keagamaan mereka berpindah-pindah. Termonitor sejak tiga hari lalu di Masjid Al Istiqomah, Ngampel, Sidorejo, Ponjong. Kegiatannya, jamaah salat Subuh, minum teh bersama, silaturahmi dengan warga didampingi dukuh (kepala dusun) setempat.

Berdasarkan data kepolisian, ada tujuh WNA India. Masing-masing, Burhanuddin Laskar, Samsul Haque Barbhuiya, Nurul Haque Laskar, Sundar Raja Laskar, Hurmat Ali Laskar, Surmat Ali Laskar dan Nazrul Islam. Semuanya laki-laki.

Kapolres Gunungkidul AKBP Ahmad Fuady mengatakan WNA India tersebut berkunjung ke masjid berdakwah. Mereka membawa paspor dan visa.

Kegiatan tersebut berpindah-pindah dari masjid ke masjid. “Kami memonitor kegiatan mereka, kami awasi,” kata Ahmad Fuady.

Kata Ahmad Fuady, di Ponjong mereka tinggal di masjid Al Istiqomah, Ngampel, Sidorejo selama dua hari. Selama berkegiatan didampingi warga Padang bernama Zainal dan warga Semin Nardi.

“Kegiatan berlangsung sampai Sabtu (10/2),” ungkap Ahmad Fuady. Menurut infomasi, setelah kegiatan di Ponjong mereka ke Semin.

Ketua Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKUB) Gunungkidul Iskanto menduga, aktivitas tersebut dari aliran Jaulah. Dari sisi etika, seharusnya mereka tidak sekonyong-konyong datang melakukan ceramah agama.

“Di Gunungkidul sudah banyak ormas keagamaan. Mulai NU, Muhamadiyah, LDII dan lainnya,” kata Iskanto.

Mantan pegawai Kementerian Agama (Kemenag) Gunungkidul itu pernah memiliki pengalaman diskusi dengan aliran Jaulah. “Mereka itu tamu. Etikanya kulonuwun (permisi) dulu. Baik ke takmir masjid maupun kepolisian,” kata Iskanto. (gun/iwa/mg1)