KULONPROGO – Proses relokasi makam yang berada di area Izin Penetapan Lokasi (IPL) New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Temon belum tuntas. Sebagian makam masih ada yang belum dipindah.

Kebanyakan adalah makam milik keluarga warga terdampak bandara yang masih menolak. Sehingga belum dilakukan pemindahan makam tersebut.

Makam-makam tersebut ada di Desa Glagah, Desa Sindutan, Desa Palihan, dan Desa Jangkaran. Alasan belum dipindah beragam. Di antaranya karena belum ada kesepakatan antara Pemerintah Desa (Pemdes) dan PT Angkasa Pura (AP) I terkait skema pemindahannya.

“Makam tidak bisa dibongkar paksa. Karena masih ada ahli waris makamnya. Seperti di Palihan dan Glagah yang menolak makam dibongkar ya warga yang menolak bandara,” kata Assek II Bidang Perekonomian Pembangunan dan Sumber Daya Alam Setda Kulonprogo Sukoco (10/2).

Penyebab lainnya, soal penaksiran nilai ganti rugi oleh apraisal dan lokasi pemindahan. Hal ini yang belum ada kesepakatan kedua pihak.

Informasi yang beredar, AP I akan mencarikan lahan. Sekaligus menanggung biaya apraisal tanah yang akan digunakan merelokasi makam di Jangkaran dan Sindutan.

“Kalau kami (Desa Sindutan) ingin pinjam pakai tanah milik AP I yang ada di luar IPL. Hasil ganti rugi makam Sindutan itu baru dibelikan lahan di sebelahnya,” kata Kepala Desa Sindutan Radi.

Ada beberapa pemakaman di desanya yang terdampak bandara dan belum direlokasi. “Jumlahnya kurang dari 100 liang makam di tempat pemakaman umum (TPU) maupun makam leluhur desa di Pemakaman Gunung Wedok,” ucap Radi.

Menurut dia, nilai ganti rugi lahan makam di Sindutan tidak cukup untuk membeli lokasi makam baru. “Kesepakatan belum tercapai antara desa dan AP I. Belum ada kesepakatan, meski kemudian muncul wacana relokasi dilakukan oleh AP I,” ujar Radi.

Risikonya, ketika opsi pemindahan dilakukan AP I, makam tidak di wilayah Desa Jangkaran. Sementara warga ingin makam tetap di relokasi, kendati di lahan barunya di wilayah Sindutan.

Kepala Desa Palihan Kalisa Paraharyana mengatakan seluruh makam terdampak bandara di desanya sudah selesai direlokasi. Namun masih ada enam liang di Pedukuhan Kragon II dan dua liang di Munggangan belum dipindah.

“Ahli warisnya ya warga yang menolak bandara. Mereka tidak mau pindah, termasuk makam keluarga mereka juga tidak boleh dipindah,” kata Kalisa.

Mengatasi masalah tersebut, Kalisa akan melakukan upaya pendekatan sampai warga melunak. “Harapannya makam keluarga mereka boleh dipindahkan,” kata Kalisa.

Humas Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulonprogo (PWPP-KP) Agus Widodo mengatakan tidak ingin makam leluhur dipindah. Makam-makam keluarga warga penolak diberi tanda bendera merah putih.

“Dengan warga yang masih hidup saja tega dan berani menyuruh pindah. Apalagi dengan warga yang sudah tidak hidup? Kalau mau mindah, ya silakan izin ke yang di dalam makam,” kata Agus. (tom/iwa/mg1)