JOGJA – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIJ meminta masyarakat bersikap dewasa menyikapi penyerangan di Gereja St Lidwina, Bedog, Jambon, Minggu (11/2).

Kepala Kesbangpol DIJ Agung Supriyanto meminta jangan sampai kejadian tersebut berlanjut dan menjadi konflik berkelanjutan di masyarakat. “Semua komponen harus arif bersikap. Karena ini bukan suatu ancaman yang terencana,” kata usai bertemu Komisi A DPRD DIJ Senin (12/2).

Dia mengimbau kepada masyarakat agar tidak terpancing atas peristiwa penyerangan tersebut. Dia khawatir, ada pihak berusaha memperkeruh suasana atas peristiwa itu. Meski tindakan intoleransi pernah terjadi, dia menganggap, tidak ditemukan ancaman berkelanjutan. “Jangan mudah membuar intrepretasi menurut kemauan yang sebenarnya tidak diketahui,” terangnya.

Guna menyikapi kejadian itu, dia mengajak semua elemen di Jogjakarta untuk menjaga kewaspadaan. Juga membangun sinergitas komunitas dengan lainnya. Sebab, sebagai muniatur Indonesia, siapa saja bisa masuk ke Jogja. “Kebebasan di Jogja ini terbuka,” jelasnya.

Komisi A DPRD DIJ memberikan sejumlah rekomendasi kepada Pemrov DIJ, terkait intoleransi di DIJ. Komisi A merekomendasi pemprov untuk melakukan deteksi dini dan meningkatkan koordinasi, di tingkat desa, atau kelurahan.
Koordinasi kepala desa, atau lurah, dengan Babinsa, Bhabinkamtibmas, Linmas, serta Jaga Warga, harus lebih aktif lagi. “Kontrol terhadap lingkungan masing-masing harus ditingkatkan,” kata Ketua Komisi A DPRD DIJ Eko Suwanto.

Pengawasan terhadap para pendatang juga perlu ditingkatkan. Sebagai kota wisata, maupun pendidikan, siapa saja bisa masuk ke Jogjakarta. “Dari kalangan penegak hukum koordinasi intelejen perlu ditingkatkan,” katanya.

Dalam pertemuan kemarin, legislatif dan eksekutif, sepakatan untuk bersama-sama melangsungkan kegiatan bertajuk Apel Jogja Damai. Rencananya, anggota ormas, tokoh masyarakat dan tokoh keagamaan akan dilibatkan dalam kegiatan itu.

Ditegaskan aksi tersebut tidak sekedar apel saja. Nantinya akan diselipkan aksi kebudayaan, dengan tujuan untuk membangkitkan kembali semangat masyarakat, untuk melawan segala tindak teror, kekerasan, maupun intoleran. “Kalau Jogjakarta tidak kondusif, dampaknya kepada kunjungan wisatawan,” jelasnya.

Gubernur DIJ Sultan Hamengku Buwono X menyatakan segera melakukan dialog dengan berbagai ormas yang ada di Jogjakarta. “Kalau materinya sudah disiapkan besok (14/2) kita lalukan,” jelasnya.(bhn/din/mg1)