Keberhasilan aparat hukum mengungkap kejahatan biasanya diikuti dengan penghargaan bagi yang bersangkutan. Nah, dalam kasus teror di Gereja Stasi Bedog, Aiptu Al Munir sosok yang pantas menerima penghargaan itu.

Pagi itu sekitar pukul 07.30 Sentra Pelayanan Kepolisian(SPK) Polsek Gamping mendapatkan panggilan bahaya dari umat Gereja Stasi Bedog. Tanpa menunggu lama, Aiptu Al Munir bersama Aiptu Praswanto dan Brigadir Erwin meluncur ke lokasi. Perlu waktu 10 menit sampai Gereja Stasi yang terletak di Jalan Jambon, Trihanggo, Gamping, yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Mapolsek Gamping.

Mendekati lokasi kejadian, kemacetan sudah terjadi hingga sisi barat gereja. Tanpa pikir panjang Munir langsung keluar dari mobil dinasnya dan masuk ke dalam gereja. Saat itu Suliono sedang ganas-ganasnya menyabetkan pedang secara sporadis ke berbagai arah sambil berteriak-teriak.

“Gereja sudah ramai oleh umat dan warga yang melihat kejadian itu. Pelaku bertindak beringas, bahkan diajak ngobrol tidak bisa,” kenang Munir ditemui di Mapolda DIJ Senin (12/2).

Pria yang kini bertugas di Unit Patroli itu sempat mengenalkan dirinya kepada Suliono. Namun, saat mengetahui dirinya sebagai polisi, bukannya tenang, Suliono justru semakin beringas. Dia menyerang dan megnejar jemaat gereja. Ketika itu hanya ada jemaat dan warga laki-laki di dalam gereja. Mereka bersama-sama mengisolasi Suliono agar tidak terus menyerang jemaat.

Untuk meredam aksi nekat pelaku, Munir melepaskan tembakan peringatan ke udara. Satu kali letusan revolver ini sama sekali tidak menyurutkan mental remaja kelahiran 16 Maret 1995 itu. Bahkan, Suliono malah berlari ke arah Munir sambil mengayunkan pedang. “Pedangnya mengenai tangan kiri saya. Pistol saya arahkan ke kaki kirinya, tapi ternyata masih lincah dan tetap menyerang. Akhirnya saya tembak kaki kanannya juga,” ujar Munir.

Tembakan kedua itu ternyata tetap tidak membuat remaja berjanggut itu diam. Dalam keadaan terluka, Suliono tetap ingin menyerang bapak dua anak ini. Suliono bahkan menubruk tubuh Munir. Secara spontan Munir pun menendangnya. Setelah itu seluruh umat gereja dan warga yang ada di dalam gereja meringkus Suliono. “Jari kelingking kaki kiri saya juga kena sabetan pedang. Untuk luka ditangan mendapatkan 4 jahitan,” ungkap anggota Polri kelahiran Bantul 1961 ini.

Meski telah berumur, Munir tetap berusaha mendedikasikan dirinya di Korps Bhayangkara dengan menjalankan tugas sebaik mungkin. Termasuk penanganan aksi kekerasan di Gereja Stasi Bedog.

Ketenangan Munir menghadapi Suliono tak lepas akan banyaknya asam garam setelah hampir 34 tahun dia mengabdi sebagai polisi.

Munir muda bertugas di Jakarta selama 15 tahun. Selanjutnya dia dimutasi di Sukabumi selama 10 tahun. Sosok yang tahun ini usianya menginjak 58 ini dipindahtugaskan di Jogjakarta sejak 2010 dan ditempatkan di Polsek Gamping sampai sekarang.

“Paling lama memang di reskrim, kurang lebih 25 tahun. Mengungkap kejahatan dan pegang senjata tak asing bagi saya,” ujarnya.

Dalam keadaan terdesak, Munir sejatinya bisa menembak bagian vital Suliono. Hanya, atas dasar pertimbangan penyelidikan, Munir menyasar kedua kaki Suliono.

Berhasil diringkus, Suliono segera dilarikan ke RSA UGM untuk dirawat. Namun, atas pertimbangan keamanan, dia lantas dipindahkan ke RS Bhayangkara.

Keberanian Munir meringkus Suliono mengundang decak kagum Kapolda DIJ Brigjend Ahmad Dhofiri. Kapolda mengamini langkah taktis Munir dengan menembak kedua kaki Suliono untuk melumpuhkan. “Tindakan itu sangatlah tepat,” pujinya.

Meski belum bisa memastikan penghargaan untuk Munir, Dofiri mengaku sangat bangga dengan dedikasi bawahannya itu. Berkat keberanian Munir, jumlah korban keberingasan Suliono tak bertambah banyak. (yog/mg1)