PURWOREJO – Perwakilan keluarga yang dikirimkan mengunjungi pekerja migran Indonesia (PMI) asal Purworejo diperbolehkan menemui keluarganya yang ditahan Imigrasi Malaysia. Dipastikan seluruh PMI dalam kondisi baik dan terlayani seluruh kebutuhannya.

Adalah Andrean Wahyu Effendi, 26, warga Desa keburuhan, Kecamatan Ngombol, perwakilan keluarga yang menjadi saudara salah satu PMI, Maulida Rismawati, 22, warga Desa Jatimalang, Kecamatan Purwodadi. Keduanya berhasil bertemu setelah salat jumat (9/2) sekitar 45 menit.

“Hanya bisa bertemu dengan saudara saya saja. Dia mengaku bosan di tahanan Imigrasi Malaysia. Tapi saya minta bersabar karena dari pihak pengerah tenaga kerja di Purworejo maupun pusatnya di Jogja tetap memberikan perhatian dalam permasalahan ini,” kata Andrean yang bertemu awak media di Kantor Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Purworejo, kemarin (12/2).

Dijelaskan Andrean, dalam kesempatan pertama Kamis (8/2), ia belum bisa menemui saudaranya itu. Hanya saja ada tiga petugas dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang diperkenankan masuk, sementara dirinya tinggal di pos penjagaan.

“Untuk bisa masuk saya membuat surat dari pihak Imigrasi Malaysia yang menyatakan bahwa saya dari Indonesia ingin menemui saudara yang masih ditahan. Kalau saya menggunakan nama pengerah tenaga kerja bisa dipastikan tidak boleh. Karena PT Dian Yogya Perdana yang ada di sana sampai saat ini juga belum boleh bertemu dengan anak-anak,” jelasnya.

Andrean menambahkan selama berada di tahanan, akses komunikasi PMI dengan pihak luar memang sangat terbatas. Perhiasan dan alat komunikasi yang dimiliki juga ditahan. Hanya saja, PMI masih diperkenankan menerima kiriman pakaian maupun kebutuhan lain di luar kebutuhan makan.

“Makanan yang diberikan sehari empat kali, yaitu dua makan besar dan dua makanan kecil. Kebutuhan mandi juga ada MCK-nya, dan kebutuhan pendukung juga disediakan di dalam. Saya sempat memberikan 80 Ringgit Malaysia ke saudara saya,” tambahnya.

Disinggung kesalahan yang disangkakan kepada para imigran itu, Andrean memaparkan dari sedikit informasi yang diperoleh jika dokumen kerja yang dipegang para PMI itu tidak sesuai penempatannya. Mereka seharusnya berada di Selanggor, dan bukan di Melaka.

“Tapi jelasnya saya kurang tahu. Ini sudah diurus oleh KBRI yang saat kedatangannya juga sudah ada penasihat hukumnya,” kata Andrean.

Rencananya hari ini Selasa (13/2) KBRI akan kembali bertemu dengan pihak Imigrasi Malaysia untuk menuntaskan permasalahan itu. Hanya saja soal pembebasan belum bisa dipastikan. (udi/laz)