Dua dari tiga korban Suliono hingga kemarin masih menjalani perawatan

di ruang Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Panti Rapih Jogja. Romo Prier dan Yohanes Trianto. Kondisi mereka dinyatakan makin membaik. Dalam waktu dekat mereka akan dipindahkan ke ruang perawatan. Sedangkan seorang korban lain, Budijono, telah dirawat di bangsal pasien.”Satu sampai dua hari ke depan Romo Prier dan Yohanes sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa,” ucap Direktur Utama RS Panti Rapih Jogja Teddy Janong.

“Sekarang tinggal diantisipasi apakah ada infeksi di luka dan dampak psikologis trauma,” lanjutnya.

Menurut Teddy, luka terparah dialami Trianto. Sabetan pedang Suliono melukai dahinya sepanjang 15 cm hingga mengenai pangkal hidung. Sedangkan Romo Prier terluka di kepala bagian belakang. Tapi sabetan pedang tersebut tidak sampai mengenai bagian otak. Semua pasien telah menjalani operasi. “Romo Prier sempat bilang,’Kalau melarikan diri mungkin saya selamat. Tapi saya tidak disuruh mundur, saya tidak mudur, maka saya dibacok.’ Itu guyonan beliau,” ujar Teddy menirukan kisah Romo Prier.

Kepala Emergency RS Panti Rapih Jogja Valentina Dian Juwitawati adalah orang pertama yang menangani empat korban di RS Panti Rapih. Romo Prier dinilainya paling santai, meski kepalanya berdarah. Bahkan saat datang ke ICU Romo Prier langsung duduk sambil memegangi kepala bagian belakanganya. Ketika datang juga tidak ada umpatan dari para korban. “Beliau hanya bilang minta tolong dicek kepalanya,” ujar Valentina.

Budijono merupakan korban ketiga yang dirujuk ke RS Panti Rapih. Sebelumnya dia menjalani perawatan di RS Ludira Husana.(pra/yog/mg1)