Aksi Suliono diduga telah dia rencanakan. Setidaknya hal itu berdasarkan laporan yang diperoleh Martinus Parmadi Subiantara. Pria 67 tahun ini menjadi salah seorang korban sabetan pedang Suliono. Parmadi mengaku mendapat informasi bahwa pelaku kerap mondar-mandir di sekitar gereja sehari sebelum beraksi. Hanya, ketika itu tak satu pun warga sekitar gereja curiga.

“Sempat ada warga yang melihat pelaku Sabtu (10/2) sekitar pukul 19.00. dia jalan ke arah timur. Minggu paginya jalan di sisi selatan gereja dari arah barat,” ungkapnya kemarin.

Ternyata pada malam sebelum beraksi pelaku diduga menginap di Musala An Nur yang terletak di sebelah barat Gereja Stasi.

Pemilik toko di sisi timur musala, Catur Hartanto, membenarkan hal tersebut. Menurutnya, ada seorang pria yang diduga Suliono berdiam diri di musala sejak siang. Menurut Hartanto, sempat ada pengendara motor mendatangi pelaku. Setahunya, pelaku melakukan transaksi handphone. “Saya melihat dari pintu toko sekitar pukul 14.00. Mereka ngobrol layaknya transaki cash on delivery (COD),” ujarnya.Sorenya, saat Hartanto hendak salat Asar, dia mendapati pria tersebut tidur di sisi selatan musala.”Dia bawa ransel besar seperti tas gunung, warnanya hitam atau coklat. Saat saya mau salat Asar dia masih tidur,” ungkapnya.Saat masuk waktu Magrib, pria misterius itu ternyata masih tidur. “Baru kali ini ada musafir menginap di musala itu,” lanjut Hartanto yang awalnya tak menaruh rasa curiga.

Sementara itu, gara-gara ulah Suliono, Pondok Pesantren Sirojul Mukhlasin dan Ummahatul Mukminin di Krincing, Secang, Kabupaten Magelang ikut jadi pembicaraan publik. Pelaku teror penyerangan Gereja Stasi Bedog diketahui pernah nyantri di ponpes tersebut. Namun, pihak pondok menegaskan bahwa aksi Suliono tak ada kaitannya dengan ajaran yang pernah diterimanya selama mondok di Krincing.

Salah seorang pengurus ponpes tersebut, Ustad Habib menegaskan, Sirojul Mukhlasin dan Ummahatul Mukminin hanya mengajarkan umat muslim untuk melaksanakan salat wajib dan hafalan Alquran. Juga kajian kitab-kitab muslim.

“Ponpes kami tak pernah ada kaitannya dengan terorisme maupun kepentingan politik mana pun,” ujarnya kemarin.

Saking banyaknya santri dan santriwati, sulit bagi pengurus ponpes untuk mengawasi mereka satu per satu. Ponpes di wilayah perbatasan Kabupaten Magelang – Temanggung itu mendidik sekitar 1.800 santri-santriwati. Mereka datang dari berbagai negara di ASEAN.

Kendati demikian, setelah mengetahui adanya aksi teror di Sleman, para pengurus pondok segera merapatkan barisan untuk membahas masalah tersebut. Habib tak menampik adanya kabar jika pelaku teror Gereja Stasi pernah nyantri di ponpes yang dikelolanya. “Ponpes kami berdiri sejak lama. Sejak itu tak ada kaitannya dengan terorisme,” katanya kembali menegaskan.(dwi/ady/yog/mg1)