SLEMAN – Sejumlah petani di Kabupaten Sleman mengeluhkan semakin mahalnya biaya tenaga buruh tanam saat ini. Hal itu disebabkan semakin berkurangnya jumlah tenaga buruh tanam yang biasanya dilakukan oleh kaum ibu.

Selain keberadaan tenaga buruh tanam semakin jarang, di musim tanam sekarang ini, biaya tenaga buruh tanam juga dipatok dengan sistem borongan dan tidak lagi dengan sistem harian. Tarifnya bisa mencapai Rp 120 ribu per 1.000 meter persegi.

“Saat musim tanam seperti sekarang, susah cari buruh tanam. Kalau ada harus antre. Karena tenaga buruh terbatas, sehingga harus bergantian. Itu pun biayanya mahal,” ujar Ketua Kelompok Tani Mulyo Samsuri ditemui di Dusun Sembur, Tirtomartani, Kalasan, Sleman, Senin (12/2).

Samsuri menambahkan, beberapa tahun lalu pekerja buruh tanam masih dibayar dengan upah harian. Mulai dari Rp 5.000 per hari. Namun karena jumlah tenaga semakin minim, tarif itu semakin naik mengikuti harga beras. Petani akhirnya memilih menerapkan sistem borongan.

Dia menjelaskan, tenaga buruh tanam di daerahnya hanya ada sekitar delapan orang. Padahal, lahan pertanian seluas 25 hektare.

“Karena kelompok tani di sini belum memiliki alat mesin tanam, maka tenaga buruh jadi satu-satunya gantungan petani,” ungkapnya.

Kelompok Tani Mulyo sebenarnya sudah mengajukan bantuan alat mesin pertanian berupa alat penanam padi otomatis. Alat tersebut sangat dibutuhkan bagi petani. Namun, hingga saat ini pemerintah belum menyalurkan bantuan tersebut.

“Biaya semakin mahal, otomatis biaya produksi meningkat, dan keuntungan petani berkurang. Petani harus mengeluarkan biaya lain, seperti sewa traktor Rp 80 ribu per 1.000 meter, biaya pupuk, biaya obat, dan sebagainya,” keluhnya. (sky/ila/mg1)