Srikandi Lintas Iman terlibat dalam aksi sosial di Gereja Santa Lidwina Stasi Bedog, Trihanggo, Gamping, Sleman Selasa (13/2). (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

SLEMAN – Tragedi Gereja Santa Lidwina Stasi Bedog di Trihanggo, Gamping, Sleman, Minggu (11/2) mampu memantik semangat kebersamaan warga Jogjakarta. Buktinya, pasca kejadian berdarah akibat ulah Suliono, warga Banyuwangi, Jawa Timur, warga setempat bergotong royong membersihkan gereja. Bahkan diikuti warga Sleman dan Jogjakarta lainnya.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sleman Suwarso menegaskan, kerukunan Jogjakarta tidak akan pernah goyah. Keberagaman menjadi ciri khas Jogjakarta sejak masa lalu. Segala perbedaan yang ada justru membuat keharmonisan Jogjakarta menjadi indah.

“Tanpa memandang golongan, banyak warga datang ke rumah ibadah ini. Membuktikan warga Jogjakarta itu cinta damai. Menilik latar belakang pelaku ternyata juga bukan warga Jogjakarta,” ungkapnya usai ikut bersih-bersih Gereja Stasi Bedog Selasa (13/2).

Bagi Suwarso, sikap FKUB dan masyarakat sebagai wujud tamparan bagi kelompok-kelompok intoleran dan radikal. Bukti bahwa kebersamaan antarumat beragama telah mengakar hingga saat ini.

Suwarso menegaskan, FKUB Sleman menolak kehadiran segala paham radikalisme. Dia tak mau komunikasi dan interaksi antarumat beragama yang telah berjalan harmonis rusak oleh tindakan radikal.

Turut hadir dalam acara doa bersama itu FKUB Sleman, Banser NU, dan ormas-ormas se-DIJ. (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

“Tidak ada istilah pencitraan dalam kegiatan ini. Semua bergerak dengan hati atas dasar kepedulian dan cinta kasih. Wujud daridarul ahdiwa syahadah, atau sikap, keyakinan dan komitmen kebangsaan terhadap NKRI,” tegasnya.

Dua puluh orang berseragam Banser Nahdlatul Ulama (NU) juga terlihat di Gereja Stasi Bedog kemarin. Kehadiran mereka membantu jemaat gereja membersihkan gereja. Ketua Dewan Instruktur Ansor NU Kabupaten Sleman Raden Yuwan Si’ro menuturkan, menjaga kerukunan antar umatberagama telah menjadi komitmen NU.

“Masalah kemanusiaan harus menjadi kerja bersama karena bermasyarakat itu kan bermacam-macam suku, ras, agama, dan sebagainya. Tidak mungkin menolong hanya sesama golongannya saja,” ujarnya.

Srikandi Lintas Iman dan Jaringan Perempuan Jogjakarta juga hadir memberikan trauma healing bagi jemaat yang syok akibat ulah Suliono.

“Kami membuka pintu bagi siapa pun yang ingin membantu dan bergotong royong. Kehadiran teman-teman ormas membuat kami semakin aman dan nyaman dan tak merasa sendiri dalam membenahi gereja,” ujar Ketua Gereja Stasi Bedog Soekatno.

Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama Eusabius Binsasi mengapresiasi kebersamaan warga Sleman dalam menjaga toleransi antarumat beragama.”Kerukunan itu penting. Ini modal membangun masyarakat yang berbangsa dan bernegara,” paparnya.

Bupati Sleman Sri Purnomo yang turut hadir dalam kesempatan tersebut menyambut baik kepedulian forum dan ormas di Kecamatan Gamping yang ikut menjaga kebersamaan melalui aksi solidaritas tersebut. “Dengan kegiatan ini semoga bisa mengembalikan citra Jogjakarta, khususnya Sleman, sebagai city of tolerance. Jangan sampai masyarakat luar memandang bahwa wilayah ini tidak aman dan intoleransi,” tuturnya.

Kepala Desa Trihanggo Gamping Firman Budi Pramono menyatakan, keberagamaan di wilayahnya telah terjalin baik. Saat perayakan hari raya, warga saling berkunjung dan silaturahmi.

“Saat Hari Raya Idhul Fitri saling bersilaturahmi. Saat perayaan Natal dan Paskah, warga ikut mengamankan dari sisi luar. Gereja juga pernah mengadakan bakti sosial dan berjalan lancar, tanpa penolakan warga,” ungkapnya.

Sementara itu, merespons penyerangan Gereja Stasi Bedog mahasiswa Universitas Sanata Dharma (USD) menggandeng komunitas keagamaan dari beberapa kampus di Jogjakarta menggelar Doa Lintas Iman #tolerankuy di halaman Auditorium Driyarkara, Selasa (13/2) malam.

Tak kurang seratusan mahasiswa terlibat dalam aksi sosial ini. Baik umat muslim, Katolik, Kristen, hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu. Mereka memanjatkan doa agar diberi kekuatan dalam menjalin kebersamaan antarumat beragama. Juga doa kesembuhan bagi para korban penyerangan.

“Kami bermaksud menekan ajaran radikalisme yang sangat rentan menyerang mahasiswa dan pelajar,” ungkap Christoforus Katon, koordinator doa lintas iman. Acara tersebut sekaligus menjadi momentum menumbuhkan kembali harmonisasi kebersamaan di lingkungan kampus dan sekitarnya.

“Melihat kejadian di Gereja Stasi, pelaku merupakan seorang pelajar. Hal ini menjadi keprihatinan dan fokus kami karena tidak sesuai dengan moral kemanusiaan,” lanjutnya. (dwi/ita/yog/mg1)