MUNGKID – Berbagai potensi bencana alam ada di Kabupaten Magelang. Mulai tanah longsor, angin kencang dan lainnya.

Yang menjadi perhatian khusus yaitu bencana tanah longsor. Terutama di kawasan Grabag, Kabupaten Magelang.

Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Grabag Nur Saefullah mengatakan perlunya sinergi relawan dari masyarakat dan perguruan tinggi. Yakni meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mitigasi bencana.

“Ini karena berada langsung dalam wilayah rawan bencana,” kata Nur kemarin.

MDMC Grabag selain melakukan manajemen bencana juga melakukan kegiatan sosial pada masyarakat yang membutuhkan bantuan. Saat ini MDMC Grabag memberikan bantuan kepada seorang remaja yang mengalami patah tulang belakang.

“Selain itu MDMC Grabag juga memberikan bantuan perawatan luka Diabetus Melitus (DM) pada salah satu warga yang menderita DM akut,” jelasnya.

Sinergi penanganan bencana ini juga ditumbuhkan para dosen di kawasan Kabupaten Magelang. Margono, Khoirul Amin dan Riana Mashar menyusun proposal Program Kemitraan Universitas (PKU) UM Magelang berjudul PKU bagi Organisasi Pengurangan Risiko Bencana (OPRB) Desa Sambungrejo, Kecamatan Grabag.

Program ini disusun berlatar belakang wilayah Kabupaten Magelang mempunyai banyak potensi bencana. Salah satunya adalah tanah longsor.

Karakteristik perbukitan yang berada di Kabupaten Magelang menjadikan potensi longsor sangat tinggi. Wilayah Grabag merupakan salah satu wilayah yang termasuk zona merah tersebut.

Sejarah kebencanaan di Desa Sambungrejo Kecamatan Grabag dari hasil Kajian dan Analisa Risiko Bencana dalam program Desa Tangguh Bencana (Destana) BPBD Kabupaten Magelang pada Oktober 2017 menunjukkan ancaman banjir dan tanah longsor mempunyai risiko sangat tinggi. Bencana yang terjadi pada 29 April 2017 di Desa Sambungrejo menjadi bencana yang mengakibatkan banyak kerugian.

Di antaranya 13 korban jiwa, kerugian material berupa perumahan dan lahan pertanian. Serta gangguan psikososial pada anak dan dewasa.

Oleh sebab itu paradigma penanggulangan bencana menjadi tanggung jawab bersama yang harus dilaksanakan. Baik pemerintah daerah, masyarakat, perguruan tinggi serta dunia usaha.

“Kegiatan ini bertujuan mewujudkan Desa Tangguh Bencana yang memiliki kemampuan mandiri. Beradaptasi dan menghadapi ancaman bencana,” ujar Margono, Ketua Tim.

Dosen Fikes itu mengungkapkan, kegiatan tersebut dilakukan bekerjasama dengan MDMC Grabag dan berlangsung Januari hingga Maret 2018. Selain itu, apabila terjadi bencana, warga dapat memulihkan diri dengan segera dari dampak bencana yang merugikan.

“Program ini juga untuk memberikan implementasi Rencana Aksi Komunitas (RAK) yang telah disusun OPRB untuk pendampingan. Termasuk mitigasi bencana, kesiapsiagaan, dan rehabilitasi,” kata Margono.

Ketua ORPB Grabag Fauzan mendukung kegiatan sinergitas kampus dan MDMC Grabag. Dia berharap agar kegiatan tersebut dapat berkesinambungan terutama dalam hal penanggulangan darurat. (ady/iwa/mg1)