Sekilas remaja yang bertubuh jangkung tersebut tidak nampak menderita cacat tubuh. Karena secara fisik dia seperti anak lainnya. Tetapi bila mulai diajak bicara, terlihat dia kurang bisa menangkap pesan yang kita bicarakan.”Kami tahu dia tuli saat usia satu tahun. Saat diajak berbicara atau dipanggil, dia tidak merespons. Ternyata ada masalah pada pendengarannya,” kata Ayah Udhana, Agung Prasetyana, Selasa (13/2).

Sejak itulah, pola komunikasi yang dilakukannya pada anak sulungnya tersebut diubah. Agung dan istrinya, Iis Arumwardani, harus menyesuaikan diri dengan menggunakan bahasa isyarat. Mereka lalu belajar bahasa isyarat agar dapat berkomunikasi dengan baik pada anak tersebut. Bahkan, dua adik Udhana kemudian juga ikut belajar bahasa isyarat.

Upaya itu tidak mudah. Mereka bahkan harus pindah tempat tinggal untuk mendapatkan pendidikan yang sesuai untuk Udhana. Menyewa sebuah kamar (indekos) di wilayah Deresan Caturtunggal Depok Sleman, Udhana kemudian dimasukkan sekolah khusus tunarungu yakni SLB B Karnnamanohara Jogja.

Upaya ini membuahkan hasil. Udhana tumbuh dengan pendidikan yang layak sesuai kondisi dan kebutuhannya. Bahkan, di luar sekolahnya, bocah kelahiran 30 Oktober 2005 itu juga aktif di kegiatan teater. Di waktu luangnya, dia menyalurkan hobinya memasak, melukis, dan membaca.”Hasilnya, beberapa kali dia menjuarai lomba melukis. Ia sangat bersemangat dalam hidupnya. Bahkan ingin menulis buku tentang motivasi bagi anak tuli seperti dirinya agar bisa hidup mandiri,” tutur Agung.

Karena proses itu, Udhana tidak mau disebut sebagai seorang tuna rungu. Dia cenderung ingin disebut tuli. “Dia merasa ada semangat untuk bisa mendengar ketika disebut tuli. Tetapi kalau tuna rungu seperti orang yang sudah menyerah,” ujarnya.

Remaja asal Dusun Gedogan, Gondowangi, Sawangan Kabupaten Magelang telah menempuh berbagai upaya. Namun hingga saat ini belum berhasil membuat alat pendengaran Udhana berfungsi. “Kami masih terus berusaha agar dia bisa mendengar kembali,” ungkap Agung.

Saat ini, Udhana dipercaya oleh Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (GERKATIN) untuk mewakili Indonesia mengikuti Children Camp, yang diadakan World Federation Deaf Youth Section (WFDYS) di Argentina pada 8-14 April mendatang.

Ada dua anak yang dikirim dari Indonesia yakni Udhana dan Yusi dari Pontianak. Mereka akan berangkat didampingi seorang instruktur, Laura. Sebelum terbang ke Benua Amerika Selatan tersebut, mereka akan mendapatkan briefing terlebih dahulu selama beberapa hari di Jakarta.

Agung mengaku tidak khawatir untuk melepas anaknya untuk bepergian jauh tanpa dia, karena sudah terbiasa mandiri. “Dia sudah sering pergi sendiri, seperti saat ke sekolah, les atau latihan teater,” jelasnya.

Bupati Magelang Zaenal Arifin turut memberikan apresiasi atas prestasi Udhana. Dalam sebuah kegiatan ramah tamah, dia memberikan bantuan dana untuk keberangkatan Udhana.”Ini suatu kehormatan bagi Kabupaten Magelang memiliki anak seperti Udhana. Meski dengan keterbatasan, dia bisa berprestasi. Kami men-suport dengan doa dan dorongan agar Udhana diberi kesehatan dan kemudahan dalam mengikuti event nanti,” kata Zaenal

Lebih lanjut bupati mengungkapkan Kabupaten Magelang saat ini terus berupaya memenuhi kebutuhan penyandang disabilitas. Pihaknya terus menjaring masukan dari masyarakat tentang fasilitas umum yang dibutuhkan mereka. Selanjutnya, dia mendorong DPU agar dalam membangun infrastruktur di Kabupaten Magelang memerhatikan kebutuhan penyandang disabilitas.(din/mg1)