JOGJA – Melestarikan olahraga tradisional sekaligus menarik kunjungan wisatawan, Dinas Pariwisata DIY bekerja sama dengan Kadipaten Pura Pakualaman menyelenggarakan Lomba Jemparingan Mataraman Paku Alam Cup II Tingkat Nasional. Acara ini dilaksanakan di Lapangan Kridosono, Minggu (11/2).

Lomba jemparingan tingkat nasional ini merupakan rangkaian memperingati Hadeging ke-212 Kadipaten Pura Pakualaman.

Animo peserta sangat tinggi, diikuti 571 orang terdiri 96 putri dan 475 putra. Berasal dari 41 klub panahan yang ada di Jogjakarta. Sedangkan dari Jawa Tengah yakni Semarang, Magelang, Solo,Wonogiri, serta Karanganyar.

Selain itu, datang dari Jawa Timur yakni Surabaya, Magetan, dan Madura. Sedangkan dari wilayah Jawa Barat yaitu Cirebon, Bandung serta dari Jakarta. Peserta ada juga yang datang dari Bali serta Kalimantan.

Lomba Jemparingan Mataraman Paku Alam Cup II Tingkat Nasional dibuka secara simbolis dengan memanah pertama kali oleh Bendoro Raden Ayu Adipati Paku Alam yang kemudian disusul oleh peserta lomba jemparingan dengan memanah secara bersama-sama.

Sekretaris Dispar DIY Rose Sutikno mengatakan, lomba Jemparingan Mataraman merupakan kegiatan tahunan tingkat nasional telah dilaksanakan kedua kalinya.

Diharapkan dengan diadakan kegiatan ini selain dapat memberikan hiburan bagi para wisatawan yang mengunjungi Jogjakarta. “Juga dapat menjadi salah satu sarana dalam melestarikan kebudayaan Jemparingan,” ujar Rose Sutikno dalam sambutannya mewakili Kepala Dinas Pariwisata DIY.

Dalam kesempatan tersebut dilakukan penyerahan trofi bergilir Paku Alam Cup dari KPH Indrokusumo selaku Pengageng Kawedanan Budoyo lan Pariwisoto Kadipaten Pakualaman kepada sekretaris Dinas Pariwisata DIY Rose Sutikno. Kemudian diserahkan kembali kepada ketua panitia kegiatan KRT Radyowisroyo.

Trofi bergilir ini resmi diperebutkan kembali pada 2018 yang ditandai dengan penyerahan anak panah dari Gusti Kanjeng Bendoro Raden Ayu Adipati Paku Alam ke pemanah tertua putra yaitu Raden Muhamad dari Kesultanan Bangkalan Madura dan pemanah termuda yaitu Vikan Kemuning dari Kulonprogo.

Pada saat perlombaan berlangsung, para peserta mengenakan busana tradisional Jawa. Dengan posisi duduk, para peserta membidik sasaran berbentuk lontong dengan diameter 5 sentimeter, panjang 30 sentimeter dengan jarak sejauh 35 meter.

Perlombaan dimulai saat wasit memberi aba-aba dengan bahasa Jawa yaitu siogo yang berarti siap, wiwit yang berarti mulai, dan rampung yang berarti selesai.

Menurut Rose Sutikno, selain fungsinya sebagai sarana pelestarian kebudayaan, kegiatan ini berfungsi sebagai sarana untuk mengenalkan makna dari olahraga tradisional yang merupakan warisan leluhur Mataram.

“Semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat secara berkesinambungan dan dapat terus menjadi sarana untuk melestarikan kebudayaan lokal yang diwariskan oleh leluhur Mataram,” harapnya.

Pada lomba Jemparingan 2018 ini diadakan pula ekshibisi bagi pelajar yang di ikuti 84 siswa SD dan SMP berasal dari DIY dan sekitarnya. Eksibisi dilakukan dengan jarak sasaran antara 15 meter sampai 20 meter. (*/a1/ila/mg1)