Suliono digiring polisi untuk diterbangkan ke Jakarta, Selasa (13/2) malam. (SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA)

SLEMAN – Dugaan keterlibatan Suliono pada jaringan teroris di Indonesia mulai ada titik terang. Menyusul kehadiran Densus 88 di Jogjakarta untuk menjemput pelaku penyerangan jemaat Gereja Santa Lidwina Stasi Bedog, Sleman, tersebut pada Selasa (13/2) malam. Suliono dijemput anggota detasemen khusus antiteror Mabes Polri di RS Bhayangkara.

Kapolda DIJ Brigjen Pol Ahmad Dofiri membenarkan hal tersebut Rabu (14/2). Namun, jenderal dengan bintang satu di pundak itu enggan menjelaskan detail proses penyidikan perkara tersebut. Dofiri hanya menyebut jika kewenangan menyidik kasus penyerangan Gereja Stasi Bedog diambil alih Densus 88. Yang jelas, kata Dofiri, Suliono telah ditetapkan sebagai tersangka sejak dia ditangkap pada Minggu (11/2) siang. “Iya, (Suliono, Red) dijemput pukul 20.30 dan langsung dibawa ke Jakarta,” katanya. Menurut Dofiri, penjemputan tersangka oleh Densus 88 baru dilakukan tiga hari setelah penyerangan dengan pertimbangan kesehatan. Setelah Suliono dinyatakan membaik oleh tim dokter dan siap diterbangkan ke Jakarta.

Mabes Polri melalui Kadiv Humas Irjen Pol Setyo Wasisto menyatakan, ada dugaan keterlibatan Suliono dengan jaringan teroris di Suriah. Pria asal Banyuwangi, Jawa Timur, itu disebut-sebut memiliki rencana berangkat ke Suriah, namun gagal. “Soal kebenaran informasi tersebut masih butuh pendalaman,” katanya.

Sementara itu, keberhasilan Aiptu Almunir dalam penangkapan Suliono saat mengamuk di Gereja Stasi Bedog mendapat apresiasi tinggi Kapolda DIJ. Kemarin Kapolda memberikan piagam dan pin penghargaan kepada Almunir usai apel pagi. Penghargaan serupa juga diberikan kepada Kasiwas Polres Sleman Iptu Pujiono, Aiptu Prastyanto Julnaidi, dan Brigadir Erwin Riza. Ketiganya terlibat dalam upaya penangkapan Suliono. Atas peran merekalah Suliono bisa diringkus. Meski mengalami luka sabetan pedang di tangan kiri, Almunir yang usianya menginjak 57 tahun mampu melumpuhkan remaja 23 tahun itu. Suliono roboh setelah kedua kakinya ditembus timah panas Almunir.

“Dari usianya, beliau (Almunir, Red) sudah mendekati pensiun. Tepatnya Maret 2019 memasuki purna tugas. Dedikasi beliau bisa menjadi teladan bagi anggota Polri lainnya,” ungkap Kapolda

Dofiri menilai aksi Almunir sangat terukur. Dalam kondisi terdesak tidak semua petugas bisa berpikir jernih. Apalagi saat itu Suliono menyerang dan melukai Almunir dengan pedangnya.” Sense-nya tinggi, sangat tepat. Bisa saja Pak Munir menembak bagian lain tubuh tersangka. Tapi pertimbangannya, pelaku harus hidup untuk menjalani penyidikan,” pujinya.

Bagi Munir penghargaan tersebut merupakan kali kedua yang diterimanya. Dia pernah mendapat penghargaan serupa saat bertugas di Polres Sukabumi. Ketika itu pria kelahiran Bantul, 1961, itu berhasil melumpuhkan pelaku perampokan pda 2008. “penghargaan ini menjadi penyemangat baru meski saya mendekati pensiun. Penghargaan dan kenangan yang tidak bisa terlupakan,” ujarnya.

Pada bagian lain, dukungan moral bagi pengurus dan jemaat Gereja Stasi Bedog terus mengalir. Dukungan tersebut kali ini datang dari Majelis Dzikir Gusdurian Jogjakarta. Mereka menggelar doa bersama di gereja yang terletak di Dusun Nusukan, Trihanggo, Gamping, Sleman.

Pembina Majelis Dzikir Gusdurian Jogjakarta Kiai Umarudin Masdar menyatakan, setiap bentuk kekerasan mengatasnamakan agama tidak bisa dibenarkan. Apalagi kekerasan itu dilakukan saat umat gereja sedang beribadah.

“Jangan merasa Islam jika tidak bisa membawa perdamaian. Ajaran agama apa pun pasti melarang tindak kekerasan. Apalagi kita ini semua adalah saudara satu NKRI,” tegasnya kemarin.

LINTAS IMAN: Anggota Gusdurian Jogja dan umat Katolik menggelar doa bersama di selasar Gereja Santa Lidwina Stasi Bedog, Trihanggo. Gamping, Sleman Rabu (14/2). (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

Guna mencegah kasus serupa terulang, Umarudin mengimbau seluruh umat beragama di Indonesia berpikir jernih. Menilik sejarah, generasi pendahulu bangsa justru hidup dengan damai dan berdampingan, meski mereka berbeda suku, ras, dan agama. “Perbedaan-perbedaan inilah yang membuat Indonesia menjadi besar. Sebuah jiwa besar bisa menjadi bekal dalam menjalani kehidupan dengan tetap menjunjung tinggi toleransi dan saling menghargai,” paparnya.

Ketua Pastur Gereja Santa Lidwina Paroki Kemetiran Romo Yohanes Dwi Harsanto sangat apresiatif dengan dukungan moral dari banyak pihak. Sehingga memberikan rasa aman bagi pengurus dan umat gereja.

“Bisa menjadi trauma healing,” ucapnya. Kemarin merupakan hari pertama jemaat gereja menjalankan puasa Paskah. Dia berharap, seluruh umat Katolik bisa menjalankan ibadah puasa Paskah dengan lancar selama 40 hari ke depan. “Tentu saja dengan dukungan dari seluruh elemen masyarakat,” katanya.

Di akhir doa bersama Kiai Umarudin mengikatkan pita merah pada lengan Romo Harsanto sebagai wujud dukungan solidaritas antarumat beragama. (dwi/yog/mg1)

GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA