PURWOREJO- Kabupaten Purworejo semakin antusias menyambut kehadiran New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo. Wilayahnya yang relatif dekat dengan perbatasan Purworejo-Kulonprogo, dianggap menjadi berkah bagi pengembangan ke depan.

“Terlebih lagi, jarak NYIA justru lebih dekat ke Purworejo dibanding ke Jogjakarta. Ke depan kawasan perbatasan di Purworejo akan menjadi kota satelit,” kata anggota Tim Help Desk NYIA PT Angkasa Pura I Ariyadi Subagyo saat menjadi pembicara kunci dalam kegiatan critical voice point bertema NYIA, sebuah peluang bagi daerah penyangga yang diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informatika di pendopo rumah dinas bupati, Rabu (14/2).

Kegiatan ini diikuti setidaknya 200 peserta dari berbagai latar belakang, utamanya yang bergerak di bidang transportasi, wisata, usaha, praktisi dan lainnya. Bupati Puwrorejo Agus Bastian langsung mengikuti kegiatan sejak awal didampingi Wakil Bupati Yuli Hastuti, Dandim 0708 Purworejo Letkol Inf Aswin Kartawijaya, Ketua Kejaksaan Negeri Alex Rahman, Wakil Ketua Pengadilan Negeri serta kepala organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. “NYIA itu sebenarnya bukan bandarane Jogja tapi bandarane Purworejo,” kata Ariyadi saat membuka paparannya.

Dikatakannya, memiliki jarak sangat dekat dengan bandara dimana hanya dua menit saja untuk mencapai perbatasan Purworejo dari pintu keluar bandara, Purworejo memang benar-benar diuntungkan. Kawasan perbatasan, dalam istilahnya, menjadi daerah premium yang akan diincar investor maupun pengusaha baik dalam maupun luar negeri untuk pengembangan atau mendukung usaha yang sudah jalan.

Adanya upaya jual-beli tanah akan menjadi hal yang tidak terelakkan. Hanya hal itu harus disikapi sejak awal dan diharapkan kawasan itu benar-benar dijaga agar tidak terjadi jual-beli yang berlebihan. Pemkab memiliki pekerjaan rumah cukup besar untuk perawatan kawasan tersebut, karena perkembangannya akan sangat cepat dan menarik. “Purworejo bisa muncul sebagai kawasan pengembangan bisnis di daerah Jawa Tengah selatan dan Jogjakarta, asalkan Purworejo mampu menggarap kawasan yang hanya 2 menit dari pintu keluar itu,” imbuhnya.

Diungkapkannya, Purworejo jangan pernah berpikir orang yang turun dari bandara langsung akan mengarahkan tujuannya ke Jogjakarta. Dalam situasi ini, pemkab harus cerdas dan membangun sesuatu yang menarik yang dibutuhkan oleh wisatawan, setidaknya jika ada hal yang menarik, wisatawan akan mengarahkan kunjungannya ke barat terlebih dahulu sebelum berangkat ke Jogjakarta. “Untuk itu diperlukan kajian mendalam tentang pengembangan kawasan NYIA, pemetaan peluang berdasar obyek wisata, pemetaan potensi lokal, kajian bisnis terkait, dan penyesuaian RTRW serta pembangunan sector bisnis prospektif,” jelasnya.

Selama ini, setiap ada kunjungan tamu ke Help Desk NYIA, mereka memilih makan di kawasan Pantai Jatimalang Purwodadi. Dengan kekhasan kuliner lautnya, kawasan ini cukup menarik. Hanya saja, tamu itu tidak sekedar ingin makan tapi sekaligus menikmati panorama pantai yang menarik, indah dan bersih. “Ini menjadi tantangan juga, karena kita harus bisa menjadikan Jatimalang itu sebagai Ancolnya Purworejo. Jadi orang akan lebih nyaman dan betah berada di sana,” katanya.

Arpiyadi juga menyarankan objek-objek wisata di Kabupaten Purworejo dibenahi. Panorama alam yang menarik dengan menjual potensi pegunungan maupun dataran rendah bisa menjadi alternatif bagi wisatawan yang sudah mulai jenuh dengan Bali dan lainnya. “Tren sekarang orang mulai jenuh ke Bali, wisata pegunungan saat ini menjadi trend. Saya yakin Purworejo bisa membangunnya, apalagi nanti ada Waduk Bener ya. Itu jika ada konsep seperti Jazz Bromo, akan sangat menarik. Kita bisa membuat jazz pinggir waduk, ini akan sangat luar biasa,” katanya.

Bupati Purworejo Agus Bastian meyakini jika keberadaan NYIA itu akan menjadikan Purworejo menapaki kehidupan baru. Sebuah kawasan baru yang akan dikenal oleh seluruh masyarakat seluruh nusantara. “Kami berharap, adanya bandara itu akan berimplikasi positif,” kata Bupati. (udi/din/mg1)