Tersangka Peragakan 32 Reka Adegan

KULONPROGO – Polres Kulonprogo menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan Sri Iswanti, 21, warga Kesambi, Loano, Kabupaten Purworejo, Kamis (15/2). Perempuan pemandu lagu atau ladies companion (LC) di sebuah kafe di Purworejo ini dibunuh tersangka dan dimasukkan ke dalam sumur pertanian kawasan Pantai Glagah, Januari 2018 lalu.

Sedikitnya ada 32 reka adegan yang diperagakan dalam rekonstruksi itu. Mulai proses korban dijemput pelaku yang tak lain kekasihnya sendiri, Asiman, 43, di rumah kosnya. Berlanjut adegan cekcok mulut di kawasan laguna Pantai Glagah, aksi saling pukul dan lempar batu dan berujung maut di dekat lokasi sumur, secara detil juga diperagakan saat pelaku menceburkan korban ke dalam sumur.

“Rekonstruksi ini dilakukan untuk mendukung pengungkapan kasus sekaligus melengkapi berkas perkara yang akan diajukan kepada jaksa penuntut umum (JPU). Rencana awal hanya 15 adegan, namun berkembang jadi 32 adegan. Dengan pertimbangan keamanan, adegan penjemputan kami asumsikan saja dan dilakukan di Glagah, meski kejadian sebenarnya di Purworejo,” kata Kaur Bins Ops (KBO) Satuan Reserse Kriminal Polres Kulonprogo Iptu Wahyu Tri Wibowo.

Dijelaskan, terungkap dalam rekonstruksi, keduanya berboncengan dengan sepeda motor dari Purworejo menuju Pantai Glagah. Di tempat itu mereka cekcok kemudian pindah lokasi. Sampai di jalan menuju pos tempat pungutan retribusi (TPR) Pantai Glagah yang dekat dengan lokasi sumur, keduanya kembali cekcok hingga saling tampar dan pukul menggunakan batu.

Emosi pelaku semakin memuncak setelah disambit batu oleh korban, kemudian pelaku membalasnya dengan tindakan sama. Namun, tindakannya itu berujung fatal, karena batu itu mengenai bagian belakang kepala korban hingga jatuh tersungkur ke tanah. Setelah memastikan tidak ada orang lain yang melihat, pelaku menyeret tubuh korban dan menjeburkannya ke sumur.

Dugaan sementara, motif pelaku yang sudah beristri itu lantaran cemburu, karena korban atau kekasih gelapnya itu punya lelaki idaman lain. Adapun pelaku Asiman dalam rekonstruksi sempat mengatakan, cekcok di Glagah berawal karena dirinya mencium aroma minuman keras dari mulut korban.

Pengacara tersangka, Agustinus Yuli Hartanto dari Lembaga Studi Kasus dan Bantuan Hukum Jogjakarta menyatakan, dalam kasus ini sempat terjadi percekcokan sebelum peristiwa pembunuhan terjadi. Masalah di antara keduanya terlalu berlarut-larut, sehingga cekcok berujung aksi pemukulan dan pelemparan batu.

“Kami menilai ini murni tindak pidana karena percekcokan yang sudah berlangsung sebelumnya. Sejak awal pun korban tak berkeberatan dan mau diajak pelaku pergi,” ucapnya. (tom/laz/ong)