Lebih Dekat dengan Kapolres Sleman AKBP M. Firman Lukmanul Hakim (1)

M. Firman Lukmanul Hakim termasuk salah satu sosok terbaik yang dimiliki Polri. Kiprahnya pada Misi UNAMID di Dadruf, Sudan Selatan, cukup menjadi bukti perwira menengah berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) ini.

DWI AGUS, Sleman
Satyalancana Bhakti Buana diberikan kepada Firman sekembalinya di Tanah Air tahun lalu. Penghargaan itu wujud apresiasi atas keberhasilannya mengemban tugas negara dalam misi perdamaian di Sudan Selatan. Tugas internasional di Benua Afrika bukan kali pertama dilakoninya. Pada 2009 Firman pernah tergabung dengan pasukan keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Sudan. Dia menjabat United Nation Police Advicer, semacam perwira yang diperbantukan menjaga perdamaian.

Tugasnya menangani konflik antara Sudan Utara dan Sudah Selatan. Bukan hanya konflik saudara yang dia hadapi. Pertempuran antara milisi setempat dengan pasukan pemerintah pun kerap di depan mata. Hingga muncul referendum yang memutuskan Sudan Selatan sebagai negara termuda Benua Afrika.

“Saya kembali ke Indonesia setelah misi selesai pada 2010,” ungkap Firman di Mapolres Sleman.

Belum genap lima tahun di Tanah Air Firman mendapat kabar dari PBB adanya pendaftaran lowongan Individual Polce Officer (IPO). Posisi ini merupakan jabatan struktural di PBB. Tugasnya tak sekadar untuk diperbantukan. Firman pun berangkat ke Sudan. Di sana dia justru mendapat tawaran tes untuk jabatan lain. Yakni Sector Commander. Saat itu ada dua lowongan kosong untuk jabatan yang jika dikonversikan di Indonesia (Polri, Red) setara dengan Kapolda. Yakni sektor timur dan tengah. “Seleksi jabatan sangat terbuka. Seluruh dunia boleh apply, bukan penunjukan,” ujarnya.

Firman pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Tentu bukan hal mudah untuk bisa menduduki jabatan prestisius itu. Apalagi persaingannya sangat ketat. Peserta berasal dari berbagai negara di dunia. Semua peserta tercatat sebagai polisi-polisi handal di negara masing-masing. Bahkan sebagian besar peserta seleksi berpangkat brigadir jenderal. Atau setara dengan perwira tinggi Polri dengan bintang satu, alias dua tingkat di atas pangkat yang disandang Firman saat ini. Kendati demikian, Dewi Fortuna tetap memihak Firman.

Seluruh rangkaian tes dijalaninya tanpa banyak kesulitan. Terlebih dia punya pengalaman sebelumnya bertugas di Sudan. Selang beberapa waktu Firman dinyatakan lulus ujian. Dia lantas ditempatkan di sektor timur sebagai East Sector Commander. Sedangkan sektor tengah dipercayakan kepada delegasi asal Nepal. Firman membawahi pasukan dari 38 negara. Termasuk di dalamnya empat polisi asal Indonesia. Menurut Firman, seorang Sector Commander dituntut tak hanya harus jago dalam strategi. Tapi juga harus bisa memimpin pasukan dan berkomunikasi secara baik dengan tim maupun warga setempat.

Firman bertugas di Sudan Selatan selama 1 tahun tiga bulan. Di sana suara ledakan bom dan desingan peluru menjadi makanan sehari-harinya.

“Warga menenteng senjata menjadi hal lumrah di sana (Sudan, Red). Setidaknya dalam satu rumah ada satu AK 47, pistol, dan tiga granat. East sector ini memang paling rawan, karena dulunya bekas daerah pertempuran,” jelas perwira menengah Polri dengan dua melati di pundak ini.
Pernah suatu waktu dirinya dihadang oleh pasukan perusuh. Tak kurang lima kali hal itu terjadi selama Firman bertugas di Sudan. Namun, berkat kesigapan pasukannya, dipadu strategi yang ciamik, pasukan perusuh mampu dipukul mundur.

Kontak senjata terjadi hampir setiap hari. Konflik Sudan Selatan bukan saja melibatkan antarsuku. Pertempuran antara milisi dan pasukan pemerintah juga kerap terjadi. Karena itu pula Firman tak pernah melepas rompi antipeluru level lima yang melekat di tubuhnya setiap terjun ke lapangan. Demikian pula helm baja dan peralatan . “Kehadiran pasukan perdamaian di sektor itu memang sangat penting,” ungkapnya.

Misi utama pasukan perdamaian adalah reform and restructure, terdiri atas peace operation, peace keeping, dan peace building. Maksudnya, membangun dan membenahi sistem pemerintah setempat. Inilah misi terakhir yang dijalani Firman dan pasukannya.

Pemerintah Sudan Selatan, menurutnya, sangat percaya dengan delegasi dari Indonesia. Baik TNI maupun Polri. Bahkan bendera merah putih diperbolehkan berkibar di negara itu, selain milik PBB. Menurutnya, hampir 40 persen misi diemban pasukan TNI dan Polri. Mulai membangun jalan, pengawalan, hingga mendirikan masjid dan sekolah.

Ada tantangan tersendiri bagi Firman selama bertugas di Sudan Selatan. Selain harus menghadapi gerakan perusuh, iklim dan cuaca menjadi “musuh” lainnya. Bagaimana tidak, saa kemarau suhu di negara itu bisa mencapai 50 derajat Celsius. Belum lagi ancaman badai pasir, mengingat kondisi geografis Sudan Selatan termasuk kawasan gurun. “Jangan mobil, helikopter yang tertambat pun bisa ambruk kalau kena badai ini,” kenangnya.(yog/ong)