HERU PRATOMO, Kota Jogja

“Walah-walah siapa ini yang merusak ladangku, sisa-sisa mentimun berserakan. Wah-wah, aku akan mencari tahu siapa yang memakannya,” ujar Ken saat manggung membawakan lakon “Kancil Mencuri Ketimun” di Sekolah Wayang Citaloka (Swacita), Kota Jogja, Sabtu (17/2).

Meski hanya 15 menit, penampilan Ken cukup menghibur para penonton. Anak kelahiran 18 November 2012 ini memang sangat menyukai wayang. Dia juga mengoleksi wayang kulit dengan beragam karakter tokoh. Sang ibu, Rani Ariyana, menurutkan, Ken menyukai wayang sejak usia dua tahun. Bahkan sejak usia balita. Itu terlihat dari kebiasaan Ken mengungguntingi gambar-gambar wayang pada buku bacaan anak-anak. Ken juga sangat senang dibacakan buku cerita pewayangan. “Tokoh idolanya Bima,” ungkap Rani.

Awalnya Rani mengira kesukaan Ken pada wayang hanya sesaat. Prediksinya itu ternyata keliru. Dibanding bermain mobil-mobilan, Ken lebih enjoy saat dibacakan buku cerita pewayangan. Saat diajak berkunjung ke Keraton Jogja pun, ketika saudara-saudaranya tertarik melihat kendaraan, Ken lebih tertarik melihat tokoh wayang. “Katanya mau lihat butho,” tutur warga Condongcatur, Depok, Sleman.

Melihat tingginya minat Ken pada wayang, Rani lantas menyekolahkan putranya yang kini berusia lima tahun itu di Sanggar Wayang, Tembi, Bantul. Dilanjutkan di Swacita. Ken juga menimba ilmu di Sanggar Wayang Kancil Mbah Ledjar di Jalan Mataram Jogja.

Ken memang belum bisa membaca dan menulis. Tapi, kemampuannya mendalang patut diacungi jempol. Saat mendalang, Ken didampingi instrukturnya, Taufik Hermawan. Taufik adalah pengajar di Swacita, sekaligus tim produksi wayang kancil di Sanggar Mbah Ledjar. Taufiklah yang membacakan narasi dan membisikkan naskah cerita kepada Ken. “Jarang ada anak seperti Ken. Banyak yang belajar (mendalang, Red) di sanggar, namun tak bertahan lama karena bosan,” ungkapnya. (yog/mg1)