Lepas dari penolakan relokasi oleh para PKL, Ketua Assosiation of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) DIJ Sudhiyanto optimistis, program pemerintah mampu mendongkrak geliat dunia pariwisata Jogjakarta. “Baik akan direlokasi atau hanya ditata rapi kami sebagai pelaku usaha jasa tour tavel mendukung. Kalau tujuannya adalah memberi ruang gerak wisatawan untuk berjalan-jalan dan menikmati suasana Malioboro kan lebih bagus,” ujarnya.

Menurutnya, penataan PKL harus diimbangi dengan strategi yang menguntungkan banyak pihak, tanpa menghilangkan ciri khas Malioboro. “Jangan sampai dengan merelokasi PKL malah bisa mengurangi wisatawan yang berkunjung karena jarak lokasi belanja terlalu jauh,” ucapnya.

Udhi, sapaan akrabnya, menilai PKL sebagai salah satu kekhasan di kawasan Malioboro. PKL merupakan ikon Malioboro sebagai penjaja hasil industri kreatif, yang mengundang banyak wisatawan.

Karena itu, lanjut Udhi, penataan PKL harus didasarkan dari banyak aspek. Selain ketertiban pedagang, aspek ekonomi juga harus dipikirkan. Begitu juga wisatawan. “Jika wisatawan merasa nyaman, mereka tentu akan lebih betah berada di Malioboro,” katanya yakin.

Dengan penataan PKL Udhi berharap, kawasan Malioboro tetap bisa menjadi surga belanja bagi wisatawan di Jogjakarta. (ita/yog/mg1)