JOGJA – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafi’i Maarif sempat menjadi sorotan saat terjadi penyerangan di Gereja St Lidwina, Bedog, Sleman, Minggu (11/2) lalu. Keberadaan Syafi’i Maarif di lokasi setelah terjadi penyerangan dinilai sebagai angin segar, masih terjaganya toleransi di masyarakat.

Tidak hanya itu, keberadaan foto Syafi’i Maarif beserta tersangka penyerangan Suliono pun sempat menjadi viral di media sosial. Banyak warganet mengapresiasi foto itu. Buya Syafi’i dinilai memiliki keberanian dan perhatian serius terhadap aksi-aksi intoleransi. Namun, ada pula kelompok warga yang justru mencemooh langkah yang dilakukannya.

Melihat situasi dan kondisi tersebut, Gerakan Masyarakat Yogyakarta Melawan Intoleransi (Gemayomi) menyatakan dukungan kepada Syafii Maarif dalam merawat kebinekaan di Indonesia. “Buya tidak berjalan sendiri,” seru Koordinator Gemayomi Prof Mukhtasar Syamsudin di Graha Suara Muhammadiyah, Sabtu (17/2).

Sebagai apresiasi, Gemayomi pun menulikaskannya dalam bentukgeguritan Nawala Katresnan. Geguritan itu ditulis dalam suatu plakat kayu yang dapat dijadikan sebagai hiasan dinding.

Geguritan itu sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Tulisannya: Ketika kami menitikkan air mata saat peduli terhadap saudara. Ketika kemuliaanmu memedulikan tangis negeri, dengan kasih dan cinta menyiram ke semua penjuru kearifan keluhuran budi. Atas keimananmu adalah pohon rindang kedamaian negeri. Kami adalah generasi yang akan mewujudkan mimpimu untuk Indonesia satu.

Dijelaskan, Gemayomi merupakan sebuah gerakan terdiri atas 36 organisasi masyarkat yang ada di Jogjakarta. Mereka terdiri dari ormas-ormas keagamaan, sosial, dan juga mahasiswa. Elemen-elemen itu sepakat, mendukung dan meneladani Syafii Maarif sebagai sosok sejarawan dan cedekiawan yang senantiasa memperjuangkan rakyat inklusif.

Mereka bertekad menjadikan keberagaman sebagai rahmat dalam pembangunan. “Keberanian Buya adalah harapan masa depan bangsa untuk membahagiakan semua warga negara,” tegasnya.

Mukhtasar juga mendorong kepada pemerintah untuk mendukung usaha badan pembinaan ideologi Pancasila agar dapat melakukan terobosan strategis dalam pembinaan ideologi Pancasila.

Sementara itu, Syafi’i Maarif mengaku cukup terharu atas dukungan yang diberikan. Diakuinya, di usia kepala delapan, terkadang fisik sudah tidak sejalan lagi dengan pemikiran dan gagasan yang ingin dituangkan. “Pikiran menerawang, tapi fisik sudah memungkinkan lagi,” ujarnya.

Dikatakan, meski intoleransi kerap terjadi, sebenarnya Jogjakarta masih dalam situasi dan kondisi cukup aman. Dia pun menyerukan kepada Gubernur DIJ Hamengku Buwono X untuk sering turun ke masyarakat.

Menurutnya, salah satu cara yang bisa dilakukan untuk membersihkan faham radikalisme di masyarakat melalui pendekatan sosial ekonomi. Sebab, menurutnya, kemiskinan yang ada di masyarkat menjadi celah bagi ideologi rongsokan yang diimpor dari luar, untuk kemudian disusupi. “Akhirnya mereka menganut teologi maut. Mereka berani mati untuk tidak berani menjalani hidup,” kata Buya. (bhn/laz/mg1)