SEPULUH menit menuju pukul 21.00. Dengan wajah sedikit lelah, Gary, sapaannya masih menekuni laptop di hadapannya. Hampir sembilan jam dia ada di depan layar 14 inci itu. Kopi susu di sampingnya pun perlahan-lahan surut disesap sang empunya.

“Kadang capek juga kalau mau lanjut nulis,” kata Gary membuka cerita saat ditemui di kawasan Kranggan, Jetis, Kota Jogja, belum lama ini.

Tantangan menjadi pekerja penuh waktu sekaligus penulis adalah persoalan bagi-bagi waktu dan energi. Setidaknya itu yang diakui oleh alumnus Sastra Inggris Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini. Dalam prosesnya, Gary hanya bisa menulis di malam hari, mengingat ia harus bekerja sebagai editor di salah satu perusahaan media monitoring mulai pukul 12.00-21.00. “Praxis aku cuma bisa malam hari. Tapi ide kadang seliweran waktu aku kerja. Kalau pas begitu, aku tulis saja garis besar idenya, di malam hari baru aku eksekusi ceritanya,” katanya.

Butuh sewindu dan keuletan untuk akhirnya bisa melahirkan “anak sulungnya” yang berjudul Perempuan Serigala. Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek pertamanya yang diterbitkan Indie Book Corner (IBC) pada Januari lalu.

Buku ini berisikan kisah-kisah dengan tema yang sangat beragam, mulai pergolakan politik di akhir era sebuah pemerintahan diktator, kronik pembunuhan di sebuah desa berlatar Orde Baru, Natal yang “hangat” di tengah perang, hingga isu multikulturalisme berbungkus sepak bola.

Bagi pria asli Kendal, Jawa Tengah, ini menulis adalah meditasi untuknya. Artinya, ada praktik relaksasi dalam proses tersebut. Selain itu, Gary mengaku dia tidak terlalu mahir menyampaikan ide secara verbal.

“Nggak begitu pandai ngomong. Lebih gampang kalau ditulis, lebih runut. Jadi nulis itu salah satu sarana buat ngomong,” ungkap pemuda yang juga hobi berlari dan bersepeda ini.

Untuk buku perdananya, Gary memilih menerbitkannya melalui jalur independen (indie). Selain harus menyediakan modal sendiri, dia pun terlibat dominan dalam proses produksi, promosi, dan distribusi. Mulai dari menyusun kata menjadi cerita, membuat poster promosi, hingga mengirimkan paket kepada para pembeli.

Walaupun jalur independen kerap dipandang sebelah mata, dia melihat ada banyak ilmu baru yang bisa didapatkannya dari sini. Misalnya belajar tentang proses menyeluruh dari bisnis buku, mulai dari penulis hingga sampai ke tangan pembaca.

“Karena aku banyak mengurus sendiri, akhirnya jadi memperluas jaringan juga. Aku berkorespondensi dengan distributor-distributor buku, terutama yang memberi ruang untuk buku-buku independen,” katanya.

Dia mengaku ada juga kekurangan berjalan di jalur independen. Salah satunya adalah jumlah cetak yang kurang banyak dan jangkauan distribusi yang tidak seluas penerbit yang sudah mapan. Namun, untungnya penulis independen saat ini sangat terbantu dengan keberadaan media sosial sebagai sarana promosi.

“Aku nggak mau statis, kalau di penerbit besar, penulis kan cuma nulis. Kalau independen bisa belajar distribusi dan memperluas jaringan. Panjang umur kemandirianlah,” tutup pria kelahiran 9 Januari 1987 itu. (laz/mg1)