Kekhawatiran Sukidi memang belum terbukti. Namun, dia lebih dulu mengambil sikap bertahan dalam menyikapi kebijakan pemerintah. Ketua paguyuban pedagang sesehan malam Malioboro itu menolak direlokasi ke mal pedagang kaki lima (PKL) yang akan dibangun di bekas lahan Bioskop Indera.

Pria yang membuka lapak di depan Hotel Inna Garuda Jogja itu mengaku bisa mengantongi uang hingga Rp 1 juta setiap malam. Pendapatannya tersebut bisa lebih banyak saat musim liburan. Di tempat baru nantinya Sukidi khawatir pendapatannya bakal merosot. Itulah yang mendorongnya untuk keukeuh mempertahankan lapak di tempat sekarang. “Kami siap ditata, tapi di lokasi yang sama. Bukan direlokasi ke tempat lain,” ucap penjual ayam dan burung dara goreng itu.

Meski belum pernah mengalami relokasi, nasib sejawatnya yang kini menghuni Pasar Klitikan Pakuncen dan Alun-Alun Utara Jogja cukup menjadi bukti. Bahwa nasib PKL di lokasi baru selalu jauh lebih memprihatinkan. “Silakan tanya mereka. Setelah direlokasi apakah sudah sesuai harapan atau belum,” ucapnya.

Pasar Klitikan Pakuncen merupakan tempat relokasi pedagang barang bekas yang semula berjualan di sepanjang Jalan Mangkubumi (sekarang Jalan Margo Utomo, Red), Jalan Asem Gede, dan Alun-Alun Selatan Jogja. Pasar yang mulai beroperasi pada 2008 itu kini mulai ditinggalkan pengunjungnya. Sekretaris Komunitas Pedagang Klitikan (Kompak) Joko Kristianto mengungkapkan, pengunjung pasar klitikan hanya tinggal 1.000-1.500 orang per hari. Padahal sebelumnya bisa mencapai tiga ribuan orang per hari. “Omzet pedagang juga terus menurun. Paling terasa sejak setahun terakhir ini,” tutur Anto, sapaanya. Bahkan Pasar Pakuncen tak lagi berfungsi sebagaimana konsep awal. Kini banyak pedagang baju yang berjualan di pasar yang terletak di Jalan HOS Cokroaminoto itu. Yang terbaru, pasar tersebut malah dijadikan lahan untuk bursa motor.

Hal yang sama dirasakan PKL di Alun-Alun Utara Jogja. Nasib mereka bahkan jauh lebih memprihatinkan. Saking sepinya pengunjung, sebagian besar PKL pilih tidak berjualan. Meskipun mereka telah mendapatkan bantuan gerobak dari pemerintah.

“PKL tak jualan karena memang tak ada wisatawan yang datang,” beber Sekretaris Forum Komunikasi Kawasan Alun-alun Utara (FKKAU)KrisnadiSetiawan.

Kondisi itu terjadi karena program yang didengungkan pemerintah tak berjalan sesuai konsep awal. Dikatakan, sasaran PKL Alun-Alun Utara adalah wisatawan yang masuk melalui Pagelaran dan keluar di Magangan. Pintu Keben, yang saat ini dijadikan salah satu akses pintu masuk ditutup. “Skenario awalnya PKL yang dulu di tengah Alun-alun diberi gerobak untuk berjualan di sisi barat dan timur, tapi alur ideal itu belum terwujud,” lanjutnya.

Dari pengalaman itu, Thole, sapaannya, meminta pemerintah tak asal merelokasi PKL. Tapi harus memikirkan konsep dan ikut mengawal pelaksanaannya agar berjalan sesuai perencanaan. Supaya tidak menimbulkan persoalan baru.

Wakil Ketua Paguyuban Handayani Sukino mengatakan, sampai saat ini belum ada sosialisasi resmi dari pemerintah ikhwal rencana relokasi PKL Malioboro. Kendati demikian, dia mengklaim bahwa lokasi khusus (mal PKL, Red) tidak menjamin pendapatan pedagang lebih baik. Apalagi lokasinya cukup jauh dari tempat parkir kendaraan pengunjung. Sukino justru usul kepada pemerintah agar mal PKL diperuntukkan bagi pedagang kuliner yang saat ini tidak mendapatkan tempat berjualan.

Jika keberadaan PKL dinilai mengganggu pemandangan dan estetika Malioboro, Sukino minta Pemprov DIJ dan Pemkot Jogja mengkaji kembali bentuk yang lebih baik. Terlebih saat ini sedang ada pendataan dari pemprov terkait bantuan gerobak PKL. “Kami siap menata diri, baik segi kebersihan maupun tampilan,” lanjut Sukino.

Terpisah, Kepala Unit Pelaksana Teknis Malioboro Syarif Teguh Prabowo menyatakan, kepastian rencana relokasi masih menunggu pembahasan Sekretariat Bersama (Sekber) Malioboro yang diketuai Sekprov DIJ Gatot Saptadi. Sekber Malioboro merupakan gabungan dari berbagai instansi yang berkaitan dengan Malioboro. “UPT Malioboro itu berada di bawah Pemkot Jogja. Kami hanya bagian dari sekber,” dalihnya.

Sementara itu, Gatot Saptadi dalam banyak kesempatan kerap menyatakan bahwa relokasi PKL menjadi bagian proyek revitalisasi Malioboro. Menurutnya, mal PKL memang tak bisa menampung seluruh pedagang Malioboro. Karena itu Sekber Malioboro akan melakukan pendataan untuk menentukan PKL yang harus direlokasi. Hal itu didahului dengan sosialisasi kepada seluruh PKL Malioboro. (pra/bhn/yog/mg1)