Di tengah berbagai tumpukan material di toko besi ABC di Jalan Kyai Mojo Jogja, Hj Lie Sioe Fen masih sibuk melayani pelanggan. Di tengah kesibukannya mengurus toko dan sebagai ketua PITI DIJ, dia menerima permintaan wawancara. “Tunggu sebentar ya,” ujarnya pada Radar Jogja.

Menurutnya, sejak 2002 lalu, setiap Imlek, PITI DIJ rutin menggelar pengajian Imlek dengan menggilir lokasi masjid. Tahun lalu, saat PITI DIJ menjadi panitia Pekan Budaya Tionghoa Yogya (PBTY), pengajian dilakukan di masjid Muttaqien di kompleks Pasar Beringharjo.

Istri mantan anggota DPR Budi Satyagraha itu mengenang perjuangan awal dulu membuat pengajian Imlek di Masjid Syuhada, yang mendapat tentangan. Tapi PITI DIJ akhirnya tetap nekad menggelar setelah mendapat jaminan, di antaranya dari Pengurus Daerah Muhamadiyah DIJ. Meskipun begitu, Hj Lie Sioe Fen mengaku tidak dendam. “(Penolakan) itu karena mereka cinta kami. Khawatir kalau kami berbuat keliru, hanya caranya saja yang tidak komunikatif,” ungkapnya.

Menurut dia sebenarnya pengajian Imlek tersebut sama seperti pengajian pada umumnya. Seperti halnya pengajian pada malam tahun baru penanggalan lainnya. Diisi dengan salat Isya berjamaah kemudian pengajian puji syukur dan harapan. “Sekaligus kita memperkenalkan warga Tionghoa yang Islam itu banyak,” tuturnya.

Keberadaan PITI sendiri juga menjadi sarana untuk saling mengenal antara warga Tionghoa dengan Islam dan sebaliknya. Diakuinya meski tidak sekeras dulu, tapi saat ini masih ada yang beranggapan negatif terhadap Islam. Untuk itu pada para anggotanya, dia selalu berpesan supaya menampilkan contoh perilaku umat muslim Tionghoa yang baik. “Ini bagian dari dakwah bil hal (dengan perbuatan), maka selalu diingatkan untuk jadi muslim Tionghoa yang baik,” ujarnya yang menjadi mualaf mengikuti suaminya pada 1983 lalu itu.

Hal yang sama juga berlaku sebaliknya, umat muslim dikenalkan dengan budaya Tionghoa. Salah satu yang sedang dilakukannya saat ini dengan mengenalkan batik encim, yang biasa dikenakan orangtua Tionghoa. Bahkan saat PBTY 2017 lalu, saat menjadi penyelenggara, PITI DIJ juga membuat workshop pembuatan batik encim.

Karena berbagai kiprahnya tersebut, Hj Lie Sioe Fen pun makin dikenal orang. Salah satu buktinya beberapa orang dhuafa yang tidak dikenalnya yang mendatanginya di toko, minta dijadikan anak asuh. Bahkan ada juga mualaf yang mau melahirkan tapi tidak direstui orang tuanya, yang menelpon dirinya saat akan melahirkan. “Ya saya anggap seperti anak saya yang mau melahirkan, via telepon saya minta tetap tenang, mau nangis kalau megingatnya,” kenang dia. (din/mg1)