Di antara barisan pemain dan official Persebaya yang keluar dari ruang ganti Maguwoharjo International Stadium (MIS) , ada anak kecil dengan kaus putih bertuliskan ‘Surabaya Football Culture’. Di lehernya terbelit syal hijau Persebaya Surabaya. Kedua tangannya membawa tiga bungkusan plastik.

Dia bukan termasuk dalam tim atau keluarga pemain. Namun, Fajar Saputra, 14, Bonekmania muda itu selama dua hari kemarin selalu dekat dengan Persebaya, tim idolanya. Sebelum Bajul Ijo bermain, beberapa pemain menyempatkan mendatangi rumah Fajar di daerah Bakulan, Bantul. Di antaranya, Misbakhus Solikhin dan Rendi Irwan. “Sangat senang Mas didatangi pemain Persebaya,” ujarnya saat ditanya perasaannya.

Fajar pertama kali mendapat apresiasi Bonekmania ketika dia Tret-tet-tet, sebutan untuk awaydays atau melawat yang identik dengan fans Persebaya ke Solo lalu. Yaitu ketika Persebaya Surabaya memainkan laga perempat final Piala Presiden 2018. Unggahan pertama diposting akun twitte @luxerclothes dengan gambar Fajar yang mengenakan celana pendek hitam dan kaus lengan panjang hitam. Dia juga membuat sendiri kaus yang dicat seadanya bertuliskan Persebaya Surabaya 1927.

Jarak Bantul-Solo sekitar 75 kilometer ditempuhnya sendirian. Berbekal uang Rp 100 ribu dari hasil tabungan dan pemberian saudaranya, dia berkeinginan kuat menonton Persebaya melawan PSMS Medan. Sebelum berangkat, dia mengaku pamit dengan kedua simbahnya. Dengan naik bus, Fajar menuju Solo dari Bantul. Meskipun baru pertama kali, dia mengaku tidak merasa khawatir.

Fajar yang bersekolah di kelas 3 SMPN 3 Bantul itu tinggal bersama kakek-neneknya. Kedua orang tuanya mencari nafkah di Sumatera. Ketika ditanyakan kenapa dia menyukai Persebaya padahal tinggal di Bantul, dia punya jawabanya. “Saya pertama nonton Persebaya di Jambi dulu, sekitar tahun 2010. Salah satu yang saya ingat Andik Vermansyah. Mainnya istimewa,” ungkapnya.

Fajar bercita-cita suatu saat nanti ingin menjadi pesepakbola. Seperti idolanya saat ini, Irfan Jaya dan Misbakhus Solikhin. Selain itu, dia juga ingin suatu saat nanti bisa menyaksikan pertandingan Persebaya langsung di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya.

Ia bisa menjadi contoh positif di tengah citra Bonekmania yang masih negatif di masyarakat. Yaitu mbonek tanpa bekal memadai. Sehingga tak jarang menjarah dan menerobos masuk stadion tanpa beli tiket. Dia bisa menjadi cerminan bahwa kedewasaan dapat dilakukan oleh suporter belia sekalipun.

Perjuangan dengan menyisihkan uang jajan dan berangkat menempuh jarak yang jauh, lalu membeli tiket untuk masuk menonton pertandingan, perlu dicontoh. Tidak hanya bagi Bonek, namun juga mayoritas suporter di Indonesia. Menjadi suporter memang berat, mental gratisan tidak akan mampu, tapi Fajar mampu. (laz/mg1)