SLEMAN – Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko mengunjungi kediaman Buya Syafii Maarif di Nogotirto Gamping, Sleman Senin (19/2). Kehadiran pemuka agama Katolik ini untuk menyampaikan terima kasih atas peran Buya Syafii pasca tragedi penyerangan Gereja Santa Lidwina Stasi Bedog pada Minggu (11/2).

Di mata Rubiyatmoko, Buya Syafii adalah guru kehidupan. Tokoh Muhammadiyah itu tak memandang perbedaan sebagai penghalang, namun justru menjadi perekat hubungan masyarakat.

“Saya sowan Buya untuk berterima kasih. Beliau spontan, cepat tanggap dan bisa menenangkan keadaan saat itu. Sehingga masyarakat bisa terkondisikan untuk tidak emosional,” ungkapnya.

Rubiyatmoko meyakini, kehadiran Buya berhasil memperkuat komitmen kebersamaan antarumat beragama. Dukungan masyarakat lintas agama pun mengalir terus bagi jemaat dan pengurus gereja. “Ini menjadi pembelajaran yang baik. Sebagai perjalanan bangsa. Tidak hanya di Jogjakarta, tapi seluruh Indonesia,” ujarnya.

Kehadiran Rubiyatmoko di kediaman Buya Syafii Maarif didampingi Romo Sumantoro dan Romo Yohanes Dwi Harsanto. Ketiganya lantas menuju Gereja Santa Lidwina untuk menggelar misa.

Menurut Rubiyatmoko, misa juga bisa menjadi sarana trauma healing. Mengingat saat ini masih ada beberapa umat Katolik yang trauma akibat insiden penyerangan gereja oleh warga Banyuwangi, Jawa Timur, Suliono. Enam korban mengalami luka fisik dan 127 orang lainnya mengalami trauma psikis. “Misa ini diadakan dalam rangka menyikapi peristiwa itu. Sebagai wujud pendampingan agar iman kembali kuat dan diteguhkan. Jangan sampai membuat lunglai, trauma, takut, dan semakin jauh dari Tuhan,” paparnya.

Tak ada kamus dendam dalam benak Rubiyatmoko. Demikian pula terhadap Suliono. “Sudah kami maafkan sejak awal. Tidak ada gunanya menyimpan dendam. Justru dengan sikap memaafkan, dapat mengobati luka-luka yang ada,” tutur Rubiyatmoko.

Bagi masyarakat, khususnya jemaat Gereja Santa Lidwina, Rubiyatmoko mengimbau untuk tidak memendam rasa dendam. Sebaliknya, dia meminta jemaat mewujudkan sikap saling mencintai untuk kebaikan.

Buya Syafii sangat bersyukur kedatangan tamu seorang Uskup Agung. Menurutnya, upaya mengikis sikap intoleransi dan radikalisme perlu dilakukan seluruh elemen masyarakat. Dalam kesempatan itu Buya Syafii menyinggung sikap dan peran para politisi. “Mereka (para politisi, Red) mendulang suara masyarakat. Tapi peran mereka belum cukup besar (dalam urusan toleransi, Red),” ungkapnya.

Menurut Buya Syafii, level seorang politikus belum akan naik menjadi negarawan jika pola pikir mereka belum menyentuh urusan toleransi. (dwi/yog/mg1)