JOGJA – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DIJ sudah selesai menguji sampel permen yang diduga menjadi penyebab keracunan delapan siswa SD Jetisharjo 2 pekan lalu. Hasilnya permen tersebut dinyatakan tidak mengandung bahan berbahaya, melainkan belum mengantongi izin edar.

“Izin edar belum terdaftar. Itu termasuk ilegal,” ujar Kepala BBPOM DIJ I Gusti Ayu Adhi Aryapatni ketika dikonfirmasi Senin (19/2). Dari hasil laporan, permen bermerk ‘H&Y’ itu dijual dicampur dengan merek permen lainnya yang sudah terdaftar di BBPOM dalam satu stoples. “Ini juga harus ditelusuri. Sumbernya dari mana dan siapa yang mengemas,” tambahnya.

Sedang hasil uji labolatorium terkait kandungan permen, dari beberapa parameter uji yang dilakukan, tidak mengandung bahan-bahan berbahaya. Meskipun begitu Ayu mengaku tidak bisa maksimal melakukan uji labolatorium karena sampel yang terbatas. “Tapi untuk kandungan napza atau zat berbahaya lainnya, negatif,” ujar dia.

Untuk penyebab keracunan siswa, bisa dikaji dari berbagai gejalanya. Seperti berapa orang yang terkena gejala yang sama atau kondisi siswa saat mengonsumsi makanan. “Tapi itu nanti tim dari Dinas Kesehatan Kota yang akan menindaklanjutinya,” ujar dia.

Kepala Dinkes Kota Joga Fita Yulia Kisworini mengatakan untuk mengetahu penyebab keracunan pada siswa harus dilihat berbagai aspek. Secara resmi Dinkes Kota Jogja belum menerima hasil uji labolatorium yang dilakukan BBPOM DIJ. “Sejak awal kan saya sudah bilang, penyebabnya belum tentu karena permen,” tuturnya.

Terkait hal itu Dinkes Kota Jogja masih menunggu hasil uji labolatorium kesehatan pada hasil muntahan para siswa di SD Jetisharjo 2. Hasil uji laboratirum muntahan siswa tersebut bisa menjadi pembanding hasil dari BBPOM DIJ. “Hasilnya juga kami masih tunggu, paling tidak pekan depan sudah keluar hasilnya,” tambah dia.

Pekan lalu, delapan siswa kelas III dan IV SD Jetisharjo 2 Jogja mengalami mual dan muntah seusai menginsumsi permen yang diberikan oleh mahasiswa yang praktik kerja lapangan. Tetapi menurut Kepala SD Jetisharjo 2 Temu Lestari, terdapat siswa lain yang juga mengonsumsi dan mengaku tidak mengalami gejala keracunan. “Beberapa siswa katanya belum sarapan,” jelas dia. (pra/din/mg1)