SLEMAN – Upaya Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY dalam mengenalkan dunia literasi tidak hanya bersifat linier. Beragam pendekatan dilakukan agar strategi berjalan tepat. Salah satunya dengan memahami potensi desa dan mengulas dalam bedah buku.

Kabid Pengembangan Perpustakaan BPAD DIY Bambang Budi Sulistyo menilai strategi pengenalan literasi harus optimal. Menurutnya, dunia pustaka tidak hanya sekadar memori dunia baca. Segala ilmu dan nilai yang didapat saat membaca wajib terimplementasikan.

“Strategi kami, ilmu-ilmu yang didapat dari membaca bisa diterapkan. Sehingga tidak terkesan seperti perpustakaan berjalan. Saat ditanya teori bisa menjelaskan, tapi belum tentu bisa diimplementasikan,” jelasnya di Balai Desa Sumberrahayu, Moyudan, Sleman, Selasa (20/2).

Dalam bedah buku di Balai Desa Sumberrahayu, BPAD DIY mengangkat tema pengelolaan badan usaha milik desa (BUMDes). Tema ini dipilih karena warga desa bersama pemerintah desa menyiapkan BUMDesa. Tujuannya untuk mengembangkan potensi desa.

Bambang memandang pengembangan BUMDesa perlu literasi yang tepat. Bedah buku juga melibatkan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Sleman sebagai organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

“Ada pula dari anggota dewan yang memegang kunci pendanaan. Harapannya bisa mengetahui bujeting yang tepat sesuai kebutuhan warga. Juga mengundang sosok inspiratif pengelola BUMDes yang sudah maju,” katanya.

Strategi ini sesuai misi meningkatkan minat baca. Sistem jemput bola diterapkan agar masyarakat bisa menyerap intisari bedah buku. Terlebih pembahasan tidak hanya sekadar teori namun kisi-kisi dari para pakar lapangan.

Bambang menuturkan BPAD DIY menyasar 48 desa se-DIY. Untuk mengoptimalkan kampanye minat baca diawali dengan konsultasi. Menyaring pendapat dari setiap kepala desa. Utamanya tentang potensi desa.

“Dari kepala desa menghendaki tema apa, kami akan menyesuaikan. Seperti di Widodomartani, Ngemplak kami mengangkat potensi perikanan nila. Lalu di Waduk Sermo Kulonprogo tentang agrowisatanya,” ujarnya.

Kepala Seksi Pengembangan Potensi Masyarakat Dinas PMD Sleman Didik Daru Suryo Suparto mengatakan, dari 86 desa, tercatat baru 26 desa yang mempunyai BUMDesa. BUMDes. Dari 86 desa, tercatat hanya 26 desa yang telah memiliki BUMDes. Angka ini belum ideal dibandingkan dengan jumlah desa di Sleman.

Dikatakan, dalam mendirikan BUMDesa perlu acuan yang matang. Salah satunya melalui muatan teori dalam buku. Literasi sangat penting untuk memulai pendirian BUMDes yang ideal. “Termasuk memahami potensi dan manajemen pengelolaannya,” jelasnya. (*/dwi/kus/ila/mg1)