BANTUL – Kabupaten Bantul masih menjadi penonton dalam dunia perhotelan. Walaupun tingkat kunjungan wisatawan di Bumi Projo Tamansari pada 2017 diperkirakan mencapai sekitar 6,5 juta orang. Rerata wisatawan hanya numpang lewat. Mereka cenderung memilih menginap di Kota Jogja atau Sleman.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) DIJ Istijab M. Danunagoro melihat, ada sejumlah faktor yang memicu kondisi ini. Di antaranya, minimnya hotel berbintang.

“Di Bantul baru ada dua hotel,” jelas Istijab di sela pelantikan BPC PHRI Bantul di Hotel Ros In, Selasa (20/2).

Istijab tak menampik jumlah penginapan seperti homestay dan hotel nonbintang di Bantul banyak pilihan. Problemnya adalah baru sekitar 20 persen penginapan yang memiliki standar layaknya hotel berbintang. Padahal, standar ini sebagai salah satu daya tarik wisatawan menginap.

Ketua BPC PHRI Bantul M Noorman As mengamininya. Dia berjanji bakal mengajak pelaku bisnis penginapan maupun restoran untuk berbenah. Setidaknya hingga menerapkan standar ala hotel berbintang. “Targetnya kepuasan pengunjung,” ucapnya.

Sementara itu, Bupati Bantul Suharsono di depan jajaran pengurus PHRI berkomitmen mempermudah proses perizinan hotel. Di mana pun tempatnya sepanjang aspek tata ruangnya terpenuhi. “Dengan syarat 70 hingga 75 persen pegawainya warga Bantul,” pintanya.

Dalam kesempatan itu, pensiunan perwira menengah Polri ini tak menampik ada ketakutan tersendiri bagi investor masuk ke wilayah Bantul. Salah satu penyebabnya adalah trauma masa lalu. Tidak sedikit investor perhotelan dipersulit. “Di era sekarang nggak ada lagi istilah dipersulit,” tegasnya. (zam/ila/mg1)