SLEMAN – Sebagai universitas yang berfokus pada bidang kesehatan, Universitas Respati Yogyakarta (Unriyo) harus mampu membekali lulusannya dengan ilmu kesehatan yang dapat diterapkan langsung ke dunia kerja. Seperti pada salah satu program studi (prodi) Kesehatan Masyarakat yang memberikan ilmu MIRACLE sebagai modal lulusannya untuk terjun dalam pelayanan kesehatan masyarakat.

“MIRACLE ini singkatan dari beberapa konsentrasi ilmu yang menunjang keterampilan mahasiswa di Progam Studi Kesehatan Masyarakat,” ujar Kepala Prodi Kesehatan Masyarakat Unriyo Nur Alfira saat ditemui di Kampus 2, Jalan Raya Tajem, Maguwoharjo, Sleman, Rabu (21/2).

Nur Alfira lalumenyebut M untuk ilmu yang terkait dengan profesi manager, kepala dinas, kepala rumah sakit atau puskesmas. Ilmu ini mengajarkan bagaimana cara mengatur jalannya perusahaan atau instansi yang bergerak dalam pelayanan kesehatan masyarakat. I adalah inovator, yakni lulusan diajarkan bagaimana dapat menciptakan teknologi tepat guna yang dapat diakses di masyarakat, misalnya menciptakan alat untuk mendeteksi penyakit sedini mungkin.

Kemudian R adalah researcher atau peneliti. Mahasiswa Unriyo dituntut menjadi peneliti di bidang kesehatan masyarakat. A adalah appranticer, membekali mahasiswa untuk mau terus belajar sepanjang hidupnya, baik di bangku pendidikan maupun di masyarakat. C adalah communicator, mahasiswa dituntut aktif menciptakan atau menjadi media komunikasi di masyarakat dalam upaya pencegahan penyakit menular, dan sebagainya.

L adalah leader atau pemimpin, mahasiswa di berikan ilmu tentang kepemimpinan tingkat layanan primer di rumah sakit maupun puskesmas. E sebagai educator, mahasiswa Unriyo dibekali ilmu bagaimana menjadi seorang pendidik dalam bidang layanan kesehatan.

“Selain itu ada ilmu paling mendasar yaitu 4 alat 4 area, yaitu ilmu pendidikan kesehatan dan ilmu perilaku, Administrasi Kebijakan Kesehatan, Epidemiologi, dan Biostatistik. Empat alat tersebut diterapkan di empat area yaitu di Kesehatan Tenaga Kerja, Kesehatan Lingkungan, Gizi Masyarakat, Kesehatan Reproduksi dan Kesehatan Ibu dan Anak,” jelas Nur.

Menurutnya, empat alat itu menjadi peminatan mahasiswa yang sesuai dengan kebutuhan jabatan mereka di dunia kerja setelah lulus. Dalam proses belajar, mahasiswa prodi Kesehatan Masyarakat juga melakukan praktik di laboratorium seperti mengukur kebisingan, mengindetifikasi tangkapan nyamuk di masyarakat yang menjadi sumber penyakit, perhitungan kepadatan tikus yang menjadi sumber penyakit di masyarakat, membuat media promosi kesehatan, dan lain-lain.

Berbekal ilmu yang diajarkan di Unriyo terbukti lulusannya terserap di lapangan pekerjaan yang sesuai hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Seperti menjadi PNS di dinas kesehatan, LSM di beberapa NGO sebagai tenaga penyuluhan masyarakat, di industri dan perusahaan di bidang kesehatan tenaga kerja, dan lain-lain.

Semua lulusan Unriyo harus menempuh ujian profesi sesuai peminatan yang diambil. Tak hanya mengantongi gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) saja, melainkan mereka juga akan mendapatkan STR dan SKPI sebagai modal tambahan. (ita/laz/mg1)