Warga yang akan mampir ke Sanggrahan di Giwangan, Umbulharjo, Kota Jogja, kini tidak perlu lagi malu atau menutupi mukanya. Bahkan dari sana, kini bisa dibawa pulang buah segar kelengkeng.

“Konotasi SG dulu yang negatif sekarang diubah, tetap SG tapi menjadi Sanggrahan Garden,” ungkap penggagas SG Haryanto di sela panen raya kelengkeng di halaman kantor Kelurahan Giwangan, (20/2). Wakil Gubernur DIJ Paku Alam (PA) X, Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP), Wakil Ketua DPRD DIJ Arief Noor Hartanto, serta Ketua DPRD Kota Jogja Sujanarko, ikut melakukan panen perdana kelengkeng itu.

Haryanto mengaku, meski lokalisasi SG sudah ditutup pada akhir 1990-an lalu masih banyak warga di luar Sanggrahan yang memandang sebelah mata. Untuk itu, disertai semangat untuk konservasi air, meningkatkan kualitas udara serta mewujudkan ketahanan pangan, awalnya ditanam 10 pohon kelengkeng setinggi 20 sentimeter untuk diamati selama tiga tahun. “Selama 1,5 tahun yang saya amati daunnya tidak mudah rontok, jadi bagi yang pemalas tidak perlu setiap hari nyapu,” ujarnya.

Kemudian sejak 2015 lalu bersama Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja, mulai menanam pohon kelengkeng setinggi 20 sentimeter. Tiga tahun setelah penanaman perdana, kelengkeng mulai matang. “Tiga tahun lagi di lingkungan ini bisa jadi gua kelengkeng, tidak kalah dengan Gua Cemara di Bantul,” ujarnya.

HP menambahkan upaya yang dilakukan Pemkot Jogja dengan menanam 150 pohon kelengkeng. Tahun lalu ditanam lagi 120 pohon kelengkeng di sekitar Kantor Kelurahan Giwangan dan di beberapa rumah warga. Selain kelengkeng, ditanam pula beberapa tanaman obat keluarga.

HP mengatakan ingin menjadikan SG sebagai destinasi belanja buah, terutama kelengkeng. “Kami punya tekad menjadikan SG ikon baru, sebutan baru, tempat untuk mencari kelengkeng di Kota Jogja,” ungkapnya.

Hal itu sejalan dengan keinginan Pemkot Jogja yang sedang menata kampung di Kota Jogja, yang diharapkan bisa menjadi sentra produksi potensi di sana. Ia mencontohkan seperti kampung sayur di Kota Jogja yang sudah tersebar di 35 kampung. Kampung sayur itu juga akan diintegrasikan dengan kampung hijau. “Meski lahan di Kota Jogja sempit, berdaya guna dan produktif,” tuturnya.

Sementara Wagub PA X mengaku kagum dengan semangat warga di utara Terminal Giwangan Jogja itu, karena bisa memanfaatkan lahan yang sebelumnya tidak produktif dan dipandang sebelah mata, menjadi sentra buah kelengkeng di kota ini.

Menurut mantan kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Satprov DIJ ini, semangat yang sama diharapkan bisa ditularkan ke masyarakat lain. “Ini luar biasa. Yang diperlukan berikutnya adalah integrasi, agar buah yang dipanen diketahui warga lainnya,” terangnya. (laz/mg1)