JOGJA – Garuda Indonesia mengaku masih memegang teguh sistem pelayanan atau servise yang selama ini menjadi kekuatannya. Apalagi saat ini, semakin banyaknya maskapai penerbangan yang menawarkan harga semurah-murahnya.

“Tetap kami fokus pada apa yang menjadi visi misi kami. Yakni memberikan pelayanan terbaik bagi penumpang baik,” kata General Manager PT Garuda Indonesia (Persero) Jubi Prasetyo saat menjadi pembicara BUMN Marketers Club di Hotel Grand Dafam Rohan, Rabu (21/2).

BUMN Marketers Club merupakan sebuah forum bagi pemimpin BUMN untuk berbagi ilmu serta pengetahuan terkait perusahaan yang dipimpinnya. Dalam kesempatan ini para pemimpin perusahaan diajak berdiskusi dan bertukar berpikiran bagaimana menjadi marketers yang handal sehingga mampu menciptakan kinerja yang Wow bagi sebuah sebuah perusahaan.

Jubi menjelaskan, keberadan LCC (Low Cost Carrier) atau maskapai berbiaya rendah memang memengaruhi penjualan Garuda. Berdasarkan data dari Industri penerbangan, 2016 jumlah costumer yang berlibur adalah 2,28 kali dan meningkat menjadi 4,26 kali di 2017. Namun, tren peningkatan ini tidak dibarengi dengan harga yang naik pula, melainkan penurunan.

“Hampir semua negara mengalami penurunan harga. Tak terkecuali Indonesia,” katanya.

Bahkan dia mengaku, jumlah pengguna LCC di Indonesia juga mengalami kenaikan. Dari yang awalnya 69 persen di 2016 menjadi 70 persen. Mengapa? karena konsumen sekarang itu benar- benar menghitung value dari penerbangannya.

Meski begitu, Garuda optimistis produknya tetap ada hati konsumen loyal. Terutama untuk kalangan pebisnis dan keluarga yang mengutamakan keselamatan. Mengingat segmentasi Garuda Indonesia adalah mereka yang berusia antara 25 hingga 45 tahun dengan latar belakangan kalangan menengah ke atas.

“Selain itu kami juga merupakan satu-satunya maskapai yang terbang tepat waktu dengan service and hospitality warm. Tak hanya itu dari segi kondisi pesawat semuanya terawat,” tuturnya. (sce/met/ila/mg1)