SLEMAN – Kapolda DIJ Brigjen Pol Ahmad Dofiri kedatangan tamu istimewa Rabu (21/2). Tamu tersebut adalah Romo Karl Edmund Prier. Romo Prier, begitu dia akrab disapa, merupakan salah seorang korban penyerangan Gereja Santa Lidwina Stadi Bedog di Sleman oleh Suliono pada Minggu (11/2). Kondisi kesehatan Romo Prier yang mengalami luka di bagian kepala memang belum sepenuhnya pulih. Namun, tokoh Katolik asal Jerman itu bersemangat menyambangi Kapolda DIJ untuk membahas pentingnya kerukunan umat beragama. Agar kejadian penyerangan tempat ibadah atau bentuk-bentuk kekerasan dan sikap intoleransi tak terulang kembali di DIJ.

Sosok pria 80 tahun ini menilai, toleransi antarumat beragama di DIJ sangat tinggi. Karena itu, dia tak ingin kedamaian yang telah terbentuk sejak lama terusik oleh aksi-aksi kekerasan. Terlebih aksi-aksi yang dibumbui dengan kekerasan atas nama agama. Aksi seperti itulah yang bisa menyebabkan runtuhnya kerukunan antarumat beragama.

Atas dasar itu pula Romo Prier mengaku telah memaafkan Suliono. Meskipun ulah remaja asal Banyuwangi, Jawa Timur, itu meninggalkan luka fisik dan psikis baginya.

“Ini wujud ajaran agama. Mengampuni kesalahan orang lain seperti Tuhan mengampuni kesalahan kami,” tuturnya usai berdialog di ruang Kapolda DIJ.

Romo Prier sendiri sudah sangat ingin bisa kembali hadir di tengah jemaatnya untuk memimpin peribadatan. Namun, kondisi fisiknya belum memungkinkan untuk melakukan hal itu.

“Badan saya masih lemas, fisik belum kuat. Saya harap semua umat tidak trauma dan takut untuk tetap beribadah di Santa Lidwina,” ucap Romo Prier.

Dalam obrolan itu Kapolda menegaskan bahwa kerukunan adalah komitmen bersama. Penyerangan gereja justru mampu memicu tumbuhnya kembali persatuan dan kesatuan antarumat beragama. “Kejadian ini menyadarkan kita semua pentingnya menjaga kerukunan,” ujarnya.

Menurut Dofiri, aksi bersih-bersih gereja dan pendampingan bagi korban penyerangan oleh warga lintas iman menjadi bukti nyata kuatnya kerukunan beragama di DIJ. (dwi/yog/mg1)