SLEMAN – Dalam mewujudkan Kabupaten Layak Anak, orang tua (ortu) menjadi komponen paling dasar dalam proses perwujudannya. Selain menjadi sosok yang paling dekat, orang tua juga sebagai bibit lahirnya perilaku anak.

Oleh sebab itu, orang tua harus paham bagaimana mengasuh dan melindungi anaknya dengan tidak memberikan gizi jiwa. Hal tersebut disampaikan Hadi Utama dari Konsultan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam kegiatan Koordinasi Membangun Komitmen Percepatan Terwujudnya Kabupaten Layak Anak (KLA).

“Gizi jiwa yang dimaksud adalah memberikan kasih sayang secara penuh kepada anak bahkan saat mereka masih dalam kandungan. Kasih sayang ini juga mengarah bagaimana orang tua memperlakukan anak ketika berbuat kesalahan,” ujarnya di Aula lantai 3 Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, Kamis (22/2).

Sayangnya, saat ini menurut Hadi masih banyak orang tua tidak menyadari tindakannya tersebut yang melahirkan sifat dan perilaku anak menjadi menyimpang. Misalnya ada orang tua yang sering membentak dan memukul anaknya, kemudian anak tidak merasa bahagia dengan kehidupan keluarganya dan lari ke narkoba. Tak hanya itu anak juga akan sering berkonflik dengan hukum.

Kepala DinasPemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana(DP3AP2KB) Mafilindati Nuraini mengatakan, anak merupakan awal mata rantai yang sangat menentukan wujud dan kehidupan suatu bangsa di masa depan.

“Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua berkewajiban serta bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak,” tuturnya.

Sejak program KLA digalakkan di Kabupaten Sleman dari tahun 2011 lalu, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak pada tahun 2017 sudah menurun dari tahun sebelumnya.

Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tahun 2016 sejumlah 499 kasus, dan 2017 sebanyak 471 kasus atau turun sekitar 5,6 persen. (ita/ila/mg1)