SLEMAN– Diare menjadi salah satu penyebab utama penyakit dan kematian anak. Dari kasus itu, virus gastroenteritis rotavirus adalah penyebab paling banyak dari penyakit diare berat. Secara global, rotavirus menyebabkan kira-kira 215.000 kematian pada anak-anak usia di bawah lima tahun.

Antisipasinya dengan pemberian vaksin rotavirus yang dapat memberikan perlindungan lebih awal dari diare yang menyebabkan dehidrasi pada bayi dan anak-anak. Vaksin ini telah dikembangkan dari hasil kolaborasi para peneliti dari Murdoch Childrens’s Research Institute (MCRI) Australia dan Indonesia.

Peneliti Utama uji klinik vaksin rotavirus Indonesia Dr Jarir At Thobari menjelaskan, anak-anak di Indonesia terus menghadapi bahaya dari gastroenteritis rotavirus. Diestimasikan menyebabkan 10.000 kematian anak, lebih dari 200.000 hospitalisasi, dan hampir 600.000 presentasi klinik pada anak-anak usia di bawah lima di Indonesia setiap tahun.

“Kerja sama peneliti Australia dan Indonesia menjadi langkah yang krusial menuju penyelamatan ribuan hidup,” ujarnya di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Kamis (22/2).

Dia menjelaskan, pada uji klinik pertama di dunia yang dilaksanakan di Indonesia, vaksin rotavirus atau RV3-BB diadministrasikan kepada bayi-bayi pada lima hari pertama usianya.

“Selama ini vaksin rotavirus hanya dapat diadministrasikan kepada anak-anak yang berusia lebih dari enam minggu, itu sama saja membiarkan bayi yang baru lahir rentan terhadap infeksi rotavirus,” ungkapnya.

Uji klinik yang melibatkan 1649 bayi ini mengalami penurunan gastroenteritis rotavirus berat pada bayi yang menerima vaksin di negara di mana vaksin rotavirus tidak rutin tersedia pada anak-anak sebagai bagian dari Program Imunisasi Nasional.

“Studi ini melibatkan 25 puskesmas dan rumah sakit dari Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Kabupaten Sleman dan Kota Jogja di DIJ pada bayi usia 0 bulan hingga 18 bulan. Follow up studi ini berhasil dengan tingkat penyelesaian studi yang sangat tinggi (lebih besar dari 96 persen),” ungkapnya.

Vaksin oral diberikan pada tiga dosis tunggal yang pertama pada usia lima hari. Volum kecil dari cairan dimasukkan ke dalam mulut bayi untuk memberikan perlindungan terhadap gastroenteritis rotavirus berat. Hasilnya, diterbitkan di New England Journal of Medicine, telah menemukan bahwa setelah tiga dosis RV3-BB diadministrasikan saat lahir, 94 persen dari bayi-bayi terlindungi di tahun pertama hidupnya terhadap gastroenteritis rotavirus akut, 75 persen dari bayi-bayi terlindungi hingga usia 18 bulan.

Ketua regional di penelitian gastroentrologi anak-anak dan penelitian rotavirus di Indonesia Prof dr S Yati Soenarto menambahkan, dengan memulai vaksinasi orang tua dapat memberikan perlindungan kepada bayi-bayi dari penyakit rotavirus pada usia tiga bulan.

Sementara itu, melihat fakta bahwa 94 juta bayi masih belum memiliki akses untuk mendapatkan vaksin, MRCI berusaha untuk melisensi RV3-BB kepada manufaktur-manufaktur untuk memproduksi vaksin-vaksin pada skala besar dengan harga terjangkau. (ita/ila/mg1)