(FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA)

TEMANGGUNG – Putusnya jembatan lama yang melintas di Sungai Progo berakibat juga putusnya pipa PDAM Temanggung. Sekitar 3.800 pelanggan perusahaan air minum yang berada di Kecamatan Kranggan itu sempat berhenti menerima pasokan. Saat ini, PDAM telah berhasil menyambung kembali jaringannya.

“Ada 3.800 pelanggan yang terhenti akibat putusnya jembatan Kali Progo dan kebetulan pipa kami yang berada di sampingnya juga ikut putus. Alhamdulillah sejak Kamis (21/2) petang, kami sudah bisa membuat jaringan baru,” kata Direktur PDAM Temanggung Agus Riyanto Jumat (23/2).

Sebelumnya, untuk mengatasi pasokan yang terhenti karena pipa putus, perusahaan daerah itu melakukan droping air dengan menggunakan mobil tangki. Air diambilkan dari sumber mata air Pikatan. Selain itu, mereka juga membuat jaringan pipa sementara yang menempel pada jembatan Sungai Progo baru.

“Kami sudah izin Bina Marga untuk membuat jaringan pipa sementara di jembatan Sungai Progo yang baru,” tuturnya. PDAM Temanggung sedang melakukan koordinasi dengan pihak Bina Marga untuk membuat jaringan pipa permanen.

Seperti diketahui, jembatan lama di atas Sungai Progo, Krangan, Temanggung, Rabu (21/2) malam sekitar pukul 22.00 putus akibat pondasi terkikis arus sungai yang mengalir deras belakangan ini. Jembatan yang dibangun pada masa penjajahan Belanda itu sempat menjadi saksi sejarah dibunuhnya sekitar tiga ribu warga pribumi. Mereka dibunuh karena ketakutan terhadap penjajah atas perjuangan rakyat yang ingin merdeka.

Untuk mengenang perjuangan itu, tidak jauh dari jembatan kini didirikan Monumen Bambu Runcing atau biasa disebut Monumen Bambang Soegeng. Bambang Soegeng adalah Gubernur Militer atau Panglima Militer III yang merupakan inisiator serangan balik terhadap Belanda dalam Agresi Militer II.

Berdasarkan keterangan salah seorang saksi mata, Darmadi, 65, yang kesehariannya berjualan buah Durian di dekat jembatan, runtuhnya bangunan yang sudah tidak difungsikan lagi itu karena arus sungai yang deras akhir-akhir ini. Kondisi jembatan sudah keropos dan pondasi jembatan sisi barat mulai terkikis air sekitar empat bulan lalu dan semakin melebar akhir-akhir ini.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu, karena kondisinya sepi dan jembatan memang sudah tidak difungsikan lagi untuk lalu lintas. “Sejak Rabu sore hujan mengguyur Temanggung, saat saya masih jualan tiba-tiba sekitar pukul 22.00 terdengar suara gemuruh. Saya kira ada longsor di sekitar jembatan, ternyata jembatan lama sudah runtuh,” jelasnya.

Jembatan bersejarah itu setiap 10 November selalu digunakan untuk tabur bunga guna memperingati gugurnya para pejuang. Saat ini, di sekitar jembatan yang runtuh dipasang garis polisi agar masyarakat tidak mendekat karena berbahaya. (dem/laz/mg1)