Pada era 1980-an, kuliah di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta masih kalah tenar dibandingkan mereka yang di UGM atau UI. Tetapi kebangaan mulai timbul di hati para alumnusnya, seiring meningkatnya peringkat perguruan tinggi yang kampusnya berada di Kentingan, Solo, itu. Seperti kebangaan yang kini dirasakan oleh Pejabat Sementara (Pjs) Bupati Temanggung Sudaryanto.

“Terus terang, kebanggaan terhadap almamater justru timbul sekarang setelah lulus. Bagaimanapun, kalau tidak kuliah di UNS saya tidak bisa menjadi seperti ini. Karena di Kampus Kentingan saya tidak hanya kuliah, tetapi belajar hidup dan kehidupan. Apalagi sekarang peringkat UNS masuk empat besar nasional,” kata Sudaryanto kemarin.

Kebangaan ini semakin sempurna karena alumnus FISIP UNS saat kuliah bergabung dengan Mahafisippa, unit kegiatan mahasiswa di dunia kepecintaanalaman. Karena melalui organisasi yang disingkat MFP itu, Mas Antok –panggilan akrabnya– bisa memaknai hidup dan kehidupan tadi.

“Semula namanya bukan MFP, tetapi Sophic. Singkatan Sosial Politik Hiking Club. Dari MFP saya belajar naik gunung secara benar. Di situ saya belajar proses,” tutur pria yang kesehariannya menjabat Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispermasdesdukcapil) Provinsi Jawa Tengah.

Ia tambah bangga karena ijazahnya juga ditandatangani seorang jenderal. “Bedanya ijazah kami yang masuk tahun 1979-an adanya tanda tangan dr Prakosa, juga seorang jenderal bintang satu,” tandas Ketua Ikatan Alumni (IKA) UNS Jateng ini. (dem/laz/mg1)