JOGJA – Risiko inflasi pada triwulan 2018 diperkirakan meningkat. Kondisi itu sejalan dengan datangnya bulan Ramadan dan Idul Fitri.

Direktur Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonsia DIJ Sri Fitriani menjelaskan, kedua kegiatan keagamaan itu mendorong tingginya permintaan dan konsumsi masyarakat terhadap bahan makanan. Selain itu, kenaikan tarif transportasi menjadi pendorong kenaikan inflasi.

“Diperkirakan pada rentang kendali 3,5+1 persen years on year (yoy),” kata Sri di Gedung BI Perwakilan DIJ Jumat (23/2).

Diyakani inflasi tersebut masih dalam kendali. Hal itu tak lepas dari upaya tim pengendali inflasi daerah (TPID) DIJ dalam mencapai pengendalian inflasi. Terutama mencakup program pokok kecukupan produksi, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga, dan komunikasi efektif.

Di 2017, inflasi DIJ terkendali dari target inflasi nasional sebesar 4,20 persen. Inflasi itu lebih rendah dibandingkan rata-rata 5 tahun terakhir sebesar 4,72 persen. Terkendalinya inflasi DIJ pada tahun lalu didorong oleh rendahnya inflasi kelompok makanan yang mudah bergejolak (volatile food).

“Peningkatan inflasi cukup tajam tahun lalu dipengaruhi peningkatan tarif listrik dan biaya perpanjangan STNK setiap awal tahun,” terangnya.

Sri mengatakan, secara triwulan perekonomian DIJ triwulan IV 2017 tumbuh melambat dari 5,41 persen menjadi 5,25 persen. Perlambatan disebabkan oleh mulai pulihnya aktivitas perekonomian DIJ setelah mencapai puncaknya pada liburan sekolah dan memasuki tahun ajaran baru.

Meski melambat, tren peningkatan konsumsi rumah tangga masih terus berlanjut. Selain itu kinerja ekspor impor juga mengalami perlambatan seiring melambatnya aktivitas ekspor komoditi utama DIJ.

Meski begitu, dia optimistis pertumbuhan ekonomi DIJ triwulan II 2018 tumbuh meningkat dibanding triwulan sebelumnya. Kunjungan wisatawan pada saat libur Idul Fitri dan Ramadan, pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) dinilai menjadi faktor pendorong meningkatnya pertumbuhan ekonomi di 2018. “Kami prediksi pertumbuhannya pada kisaran 5,6 persen,” tegasnya. (bhn/laz/mg1)