(DWI AGUS RADAR JOGJA)

DWI Indri Astuti tak bisa tidur nenyak sejak mengetahui suaminya hilang di kawasan Kaliadem, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman. Bahkan KEMARIN Jumat (23/2) pagi dia sudah tampak di Kaliadem untuk mencari tahu kabar terbaru dari tim SAR. Ternyata, tim SAR dan relawan Merapi belum juga berhasil menemukan sosok Warsito yang terakhir kali sebelum dilaporkan hilang mengenakan celana jins biru dan jaket coklat. Dwi pun makin terlihat syok saat mendapat kabar belum adanya kejelasan nasib suaminya. Berulang kali Dwi terlihat mondar-mandir dari posko Kaliadem ke bungker. Dia bermaksud mencari, sekaligus memastikan keberadaan suaminya.

Saat Radar Jogja mencoba bertanya dirinya dengan halus menolak. “Sejak pagi saya di sini, semoga suami saya cepat ketemu, itu saja. Kalau mau tanya-tanya lainnya lebih baik ke tim SAR saja,” pintanya dengan raut muka kesedihan.

Kades Umbulharjo Suyatmi sangat berempati dengan kondisi Dwi. Untuk sekadar menghibur, Suyatmi pun terus menemani Indri selama di Kaliadem. Suyatmi menuturkan, Indri meminta pertolongan kepadanya melalui kearifan lokal lereng Merapi. “Yang dia maksud adalah lewat juru kunci,” katanya. Sudah menjadi kepercayaan warga lereng Merapi jika juru kunci memiliki peran besar terhadap sesuatu yang terjadi di kawasan gunung aktif itu. Termasuk dalam urusan pencarian orang hilang.

“Tak masalah. Intinya kami siap membantu,” ucapnya.

Atas instruksi Suyatmi, perangkat Desa Umbulharjo membangun dapur umum dan posko pencarian Warsito. Posko sengaja tidak didirikan di Kaliadem karena kawasan ini terlalu ramai dikunjungi wisatawan. Tapi di balai Desa Umbulharjo yang terletak di tepi jalan utama menuju puncak Merapi. Sebagaimana saat erupsi Merapi 2010, balai desa ini juga menjadi posko dan dapur umum bagi korban dan tim SAR.

Bhabinkamtibnas Desa Kepuharjo Bripka Joko Santoso mengaku sempat berbincang dengan Dwi Indri Astuti. Dalam perbincangan tersebut terungkap bahwa Warsito ingin pergi ke Sulawesi. Namun oleh sang istri tidak diizinkan.

Sementara hingga sore kemarin tim SAR belum menemukan tanda-tanda keberadaan Warsito. Tak kurang enam search and rescue unit (SRU) dari petugas gabungan SAR, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, kepolisian, dan relawan Merapi dikerahkan untuk menyisir lereng Merapi. Fokus utama pencarian di seputaran Sungai Gendol. Tiap SRU terdiri atas 10-15 personel.

“Sehari sebelumnya (Kamis,22/2, Red) sempat ada jejak. Tapi saat ditelurusi jejak tersebut mengarah ke jalan buntu,” ungkap Kasubsi Operasi dan Siaga Basarnas DIJ Aditya Dwi Hartanto.

Pencarian Warsito diakui Aditya tak bisa berjalan optimal lantaran faktor cuaca yang kurang bersahabat. Hari pertama pencarian sempat turun hujan. Kabut tebal pun menyelimuti area pencarian Warsito, sehingga memperpendek jarak pandang. (yog/mg1)