Ruang pantau Gunung Merapi di BPPTKG DIJ. (FOTO : GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

JOGJA – Meletusnya Gunung Sinabung di Sumatera Utara kerap dikait-kaitkan dengan aktivitas Gunung Merapi di Sleman, DIJ. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta memang sempat mencatat terjadinya empat kali gempa vuklanik di Gunung Merapi. Kendati demikian, kondisi tersebut masih tergolong normal. Sebab, gempa yang tidak terjadi berturut-turut.

“Sekarang sudah tidak ada lagi (gempa vulkanik, Red). Kalau terjadi gempa lebih sering, itu harus mulai waspada,” jelas Kepala BPPTKG DIJ I Gusti Made Agung Nandaka kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan yang mengunjunginya Jumat (23/2).

Menurut Made, sejak dilanda erupsi besar pada 2010 Gunung Merapi kerap mengalami gempa vulkanik seperti itu. Namun dengan skala lebih kecil.

Hasil terbaru pemantauan kamera thermal yang dipasang di puncak Merapi menunjukkan, suhu kawah mencapai 141 derajat Celsius. Sedangkan pengukuran di bagian lubang sulfatara sebelum erupsi 2010 suhunya bisa mencapai 700-900 derajat Celsius. “Tapi pengukuran suhu dengan kamera thermal langsung di lapangan bisa berbeda hasilnya karena pengaruh suhu ruangan,” katanya.

Erupsi Merapi kerap dikaitkan dengan siklus empat tahunan. Menurut Made, hal itu tak bisa dipastikan. Jangka waktu tersebut hanya rata-rata. Dicontohkan, sejak erupsi pada 1984 gunung paling aktif di Pulau Jawa itu kembali mengalami erupsi delapan tahun kemudian, yakni 1992. Pernah juga erupsi pada 1997, tapi hanya berselang setahun sudah erupsi lagi. Bahkan disusul erupsi berikutnya yang hanya berselang tiga tahun kemudian, yakni pada 2001. Erupsi lagi 2006, dan terakhir 2010. “Siklus Merapi itu tidak pasti,” tegasnya.

Kondisi puncak Merapi saat ini berdasarkan sistem vulkanis terdapat kantong magma, saluran, dan sumur magma. Untuk bisa mengisi sumur magma, kantong magma harus diisi terlebih dahulu. “Nah waktu mengisinya berapa lama itu yang tak bisa diprediksi. Beda dengan angin. Lagian siapa yang bisa masuk ke dalam (sumur magma, Red),” tuturnya.

Meski berstatus normal, rekomendasi pendakian Gunung Merapi dibatasi maksimal satu kilometer di bawah puncak.

(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

Dalam kesempatan itu Jonan menilai kelengkapan peralatan pemantauan gunung berapi milik BPPTKG Jogjakarta sudah lengkap. Jonan usul agar sebagian peralatan tersebut diperbantukan untuk memantau perkembangan kondisi Gunung Sinabung. “Sebagian peralatan mekanis kan sudah jadi artefak. Karena itu kami pelan-pelan akan memperbaruinya dengan yang lebih modern dan bersistem elektronik serta internet,” ujarnya. (pra/yog/mg1)