Meraih suara banyak bukan akhir perjuangan bagi setiap partai untuk sekadar menjaga eksistensi lima tahunan. Terlebih bagi empat partai baru, Perindo, PSI, Berkarya, dan Garuda. Bukan perkara mudah bagi keempat partai tersebut untuk menggeser dominasi partai yang lebih dulu berkancah di panggung politik.

“Tugas berat bagi partai-partai baru menghadapi parpol yang sudah mapan. Tergantung branding apa yang akan dijual untuk menentukan dukungan dan pilihan rakyat,” ungkap dosen Fisipol UGM Dr Hempri Suyatna.

Hempri memandang, setiap partai baru hadir dengan kekuatan dan konsep yang berbeda. Langkah ini perlu diambil karena dinamika pemilih terus berkembang. Terlebih adanya demografi yang didominasi calon pemilih pemula atau muda. Kendati demikian, partai baru tetap harus bertarung dengan partai lama yang juga mulai menyasar calon pemilih pemula.

Pengurus partai berdampak kuat pada visi dan misi yang diusung. Ide-ide segar kekinian mampu diolah dan dikemas untuk menciptakan isu kebijakan.

Terkait hal itu, kata Hempri, PSI di bawah asuhan Grace Natalie memiliki image kuat terhadap pemuda. Sedangkan Perindo besutan taipan media Hary Tanoesoedibyo memiliki kekuatan dari sisi media. Sedangkan Tommy Soeharto dengan Partai Berkarya hadir menawarkan romantisme era pemerintahan ayahnya.

Dikatakan, kehadiran partai-partai baru bisa menjadi pilihan utama bagi pemilih muda. Apalagi jika diimbangi dengan visi misi yang jelas dan berbeda dengan partai-partai lama “Strategi pendekatan harus pas dengan generasi zaman now,” ujarnya.

Di sisi lain, Hempri mengingatkan masyarakat agar masyarakat tak mudah terbuai dengan janji-janji politik dan program, yang semanta-mata hanya untuk kepentingan partai mendulang suara. Lewat UMKM, misalnya.

Tak sedikit partai hadir dengan program awal mendukung UMKM. Namun, kehadiran mereka hanya sementara dan tidak ada komitmen lanjutan.

“Politisasi UMKM sering terjadi. Pelaku UMKM hanya sebatas objek sebagai alat politik kekuasan dan ujung-ujungnya dilupakan,” ucapnya.

Karena itu, Hempri mengimbau masyarakat agar tak segan meminta kontrak politik dengan partai atau bacaleg. Agar bisa ikut mengawal dan memastikan setiap kebijakan partai sesuai dengan visi misi yang dijanjikan. (dwi/yog/mg1)