“Piye kabare, iseh penak zamanku to?” Munculnya slogan dengan gambar Presiden Soeharto sedang tersenyum sambil melambaikan tangan ini entah siapa yang memulai atau menciptakannya. Yang jelas, slogan itu masih cukup mudah ditemukan dalam bentuk stiker yang tertempel di bak truk, mobil angkutan umum, hingga laman media sosial.

Sepertinya slogan itu menjadi pemacu semangat penggawa Partai Berkarya. Terlebih partai berlambang pohon beringin dengan bingkai rantai ini didirikan oleh Hutomo Mandala Putera, putra bungsu Presiden Soeharto, yang akrab disapa Tommy Soeharto. Dominasi warna kuning dan gambar pohon beringin pada lambang Partai Berkarya pun sangat mirip dengan lambang Partai Golkar (sebelumnya bernama Golongan Karya/Golkar), yang pada masa Orde Baru sering dicap sebagai partainya “penguasa” ketika itu, yakni Soeharto.

Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Berkarya DIJ KRT Haryo Sahid Supriyanto mengatakan, partai ini dibentuk untuk meneruskan program pembangunan, sebagaimana pernah dilakukan di era kepemimpinan Presiden Soeharto. Inilah yang menjadi cita-cita pendiri partai. Karena pada masa itu, Haryo mengklaim, situasi negara benar-benar kondusif. Bahkan, harga-harga kebutuhan pokok masyarakat sangat terjangkau. “Saya meyakini, saat ini masih ada masyarakat yang merindukan masa kepemimpinan beliau (Presiden Soeharto, Red),” ungkap Haryo kepada Radar Jogja.
Gerakan koperasi dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) menjadi program utama Partai Berkarya untuk menggaet hati calon pemilih. Dua program tersebut sengaja dipilih lantaran dinilai pernah mengalami kejayaan dan sebagai salah satu kunci sukses kepemimpinan Presiden Soeharto. Untuk menggaet calon pemilih Partai Berkarya menyasar langsung kalangan akar rumput. Bukan dengan pengerahan massa.

Meski mengemban misi besar, Partai Berkarya tak menargetkan muluk perolehan suara pada Pemilu Legislatif 2019 mendatang. Sebagai partai baru, kata Haryo, tantangan partainya untuk mendulang pundi-pundi suara sangat besar. Karena itu partainya hanya menargetkan seorang kader bisa menduduki kursi lembaga legislatif. “Minimal ada seorang wakil dari partai kami di DPR RI, serta DPRD tingkat satu dan dua,” ujarnya.

Berbeda dengan PSI. Partai yang menyasar kader usia muda ini pasang target yang bisa dibilang cukup “wah” pada Pileg 2019. Yakni minimal punya seorang wakil di lembaga legislatif dari setiap daerah pemilihan (dapil). Untuk tingkat DPRD DIJ saja minimal tujuh kursi.

Ketua DPW PSI DIJ Sigit Nugroho tak menampik target yang dipasang cukup berat. Sebagai pendatang baru, targetnya hampir mirip dengan partai-partai yang lebih dulu eksis. Menurut Sigit, partainya diuntungkan dengan solidaritas kepemudaan di DIJ. Karena Jogjakarta merupakan salah satu basis kaum muda Indonesia. Suara kaum muda DIJ menjadi harapannya.

“Kaum muda diharapkan memiliki ruh semangat untuk melawan dan tidak melakukan korupsi. Anak-anak muda di bawah 40 tahun bisa memberikan warna,” kata Sigit.

PSI cukup serius dalam penjaringan bakal calon legislator (bacaleg). PSI menunjuk tokoh-tokoh eksternal partai yang berkompeten di bidang masing-masing sebagai juri penjaringan kader. Di antaranya, dosen Fisipol UGM Dr Hempri Suyatna dan dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Alimatul Qibityah.
Target tinggi perolehan suara Pileg 2019 juga dipatok Perindo. Yakni, minimal lima kursi atau satu fraksi di tiap DPRD kabupaten/kota dan provinsi, serta seorang wakil di DPR RI. “Target kami bukan sekadar meramaikan. Tapi memberi manfaat untuk kesejahteraan masyarakat,” ujar Ketua DPW Perindo DIJ Nanang Sri Roekmadi.

Perindo juga sedang melakukan penjaringan bacaleg. Pendaftaran caleg lewat online maupun offline terbuka untuk umum. Tak terbatas kader atau pengurus partai. Yang terpenting dari tiap dapil terpenuhi syarat kuota minimal 30 persen caleg perempuan. Nanang mengiklaim, guna menghadapi pileg partainya jauh lebih siap dibanding partai lain. Salah satunya dari “serangan udara” lewat media televisi berupa tampilan mars Perindo. Kemudian ditindaklanjuti dengan program ekonomi, berupa pembagian gerobak bagi pelaku UMKM, serta gerakan sosial lainnya melalui delapan sayap partai.

Sementara itu, pengurus Partai Garuda yang mengusung semangat perubahan juga disibukkan proses penjaringan bacaleg. Namun, sampai saat ini belum ada target untuk meraih kursi lembaga legislatif, baik di tingkat pusat provinsi, maupun kabupaten/kota. Mencetak bacaleg masih menjadi fokus partai.

“Bukan wani piro, tapi benar-benar mau perubahan,” ujar Ketua DPW Partai Garuda DIJ Walidjo Budi Prayitno.

Semangat perubahan menjadi komoditas politik Partai Garuda. Menyasar kalangan pedagang, petani, nelayan, dan pekerja kelas menengah sebagai pundi-pundi suara. “Kami tawarkan perubahan sistem, harga bahan baku yang stabil, dan petani yang terkondisikan, serta mengedepankan pro wong cilik,” ujar Walidjo, yang juga menjabat ketua asosiasi pengusaha gula dan terigu Indonesia.

Bisa lolos verifikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU), menurut Walidjo, menjadi bukti keampuhan semangat perubahan yang diusung Partai Garuda, tanpa digawangi tokoh ternama maupun biaya operasional tinggi. Menurut Walidjo, mayoritas pengurus dan kader partai adalah orang baru di panggung politik. (bhn/pra/yog/mg1)