SLEMAN – Sejumlah warga Plosokerep, Umbulharjo, Cangkringan mengeluhkan rusaknya jalan aspal. Ruas jalan sepanjang 1,5 kilometer tergolong rusak berat. Mulai dari jalan berlubang hingga aspal mengelupas dan menggembung.

Salah seorang warga Plosokerep Ratno, 66, mengungkapkan kerusakan sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu. Awalnya jalan tersebut sudah diperbaiki pascaerupsi 2010. Tapi rusak lagi karena jalan tersebut menjadi arus lalu lintas pertambangan.

“Rusaknya lumayan parah, kalau dilalui roda empat mungkin masih bisa tapi kalau dilalui motor harus hati-hati. Apalagi kalau hujan, tidak hafal jalan bisa terpeleset,” ujarnya Minggu (25/2).

Dia menuturkan, jalan tersebut tergolong krusial. Keseharian kerap digunakan sebagai jalur aktivitas warga. Mulai dari simpang empat perlintasan truk pertambangan hingga sisi timur hunian tetap Plosokerep.

“Berharap truk-truk penambang itu jangan lewat sini. Karena itu yang sering membuat rusak jalan. Kalau diperbaiki percuma jika masih dilewati,” ujarnya.

Warga lainnya, Slamet, 35, memiliki keluhan yang sama. Kebetulan rumahnya berada persis disamping jalan beraspal. Bahkan ada satu titik jalan rusak cukup berat di depan rumahnya.

Sejatinya keluhan sudah disampaikan oleh warga maupun dukuh. Sayangnya belum ada solusi untuk memperbaiki jalan yang rusak. Padahal jalur tersebut sangat penting bagi aktivitas warga sehari-hari.

Satu hal yang turut disesalkan olehnya adalah jalur truk pasir. Setiap harinya bisa lewat puluhan truk dengan tonase besar. Tidak jarang dia menegur langsung sang supir jika meluli lajur jalan yang salah.

“Pernah suatu ketika saya menghadang pakai motor. Truk itu pakai jalur berlawanan, langsung saya hadang dan suruh pindah jalur. Kalau tidak seperti itu maka akan terus ngeyel,” tegasnya.

Kades Umbulharjo Suyatmi mengakui ruas jalan Plosokerep rusak parah. Dia sempat mengadu pada dinas terkait. Responnya segera diperbaiki namun hingga saat ini belum terwujud.

Setelah konsultasi dirinya baru mengetahui jika status jalan tersebut milik provinsi. Untuk perbaikan harus dilakukan oleh organisasi perangkat daerah (OPD) yang berwenang. Mengenai status rawan, jalan tersebut tidak masuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) III.

Berdasarkan pengamatan Radar Jogja, mayoritas jalan rusak berada di lajur kiri dari arah utara ke selatan. Lajur ini kerap dilalu truk dengan muatan pasir penuh. Sementara lajur kanan hanya dilalui truk kosong. (dwi/ila/mg1)