BANTUL – Pengelolaan limbah domestik dari kompleks perumahan masih menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Sebab, tidak sedikit kompleks perumahan yang ternyata tidak memiliki depo sampah sementara. Salah satunya di Kecamatan Sedayu. Akibatnya, pengelolaan limbah domestik ini tak terkelola dengan baik sehingga berpotensi menimbulkan berbagai pencemaran. Seperti tumpukan sampah di RT 56 Dusun Sedayu, Argosari, Sedayu.
Lurah Desa Argosari Hidayaturrachman memastikan, tumpukan sampah di wilayah RT 56 Dusun Sedayu ini berasal dari limbah domestik salah satu kompleks perumahan. Tumpukan sampah yang telah menggunung ini dikumpulkan seorang warga RT 56 bernama Panut Santoso di samping rumahnya selama belasan tahun terakhir.
“Dia kebetulan berprofesi sebagai pengepul sampah,” jelas Hidayat di RT 56 Dusun Sedayu, Minggu (25/2).

Selama belasan tahun itu pula tak jarang sejumlah tetangga Panut mengeluh. Mulai bau tak sedap, potensi penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga tercemarnya resapan air. Hidayat mengungkapkan, para petangga Panut ini juga berulang kali meminta bapak tiga anak tersebut berhenti menumpuk sampah. Hanya, Panut bersikukuh bahwa sampah tersebut ditumpuk di atas tanahnya sendiri. “Dia (Panut) juga tidak meminta izin kepada warga sekitar,” ucapnya.

Karena semakin akut, pemerintah desa (pemdes) bersama kecamatan Sedayu akhirnya turun tangan.Setelah mendapat persetujuan dari Panut, pemdes dan kecamatan Sedayu kemarin akhirnya membersihkan tumpukan sampah.

Satu alat berat dan sebelas dump truck milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) diturunkan. Kendati begitu, proses pengambilan tumpukan sampah ini bukan tanpa kendala. Hingga kemarin siang petugas baru berhasil mengisi bak dua dump truck. “Akses masuknya susah,” keluhnya.

Dari pantauan, tumpukan sampah ini berada di samping timur rumah Panut. Sampah organik seperti plastik hingga nonorganik menggunung. Saking lamanya, berbagai jenis sampah ini bercampur dengan tanah.

Dalam kesempatan itu, Hidayat tak menampik limbah domestik kompleks perumahan butuh penanganan khusus. Walaupun tumpukan sampah yang dikumpulkan Panut ini berasal dari kompleks perumahan di wilayah desa sebelah. Sebab, tak jarang penghuni kompleks perumahan di Argosari yang membuang sampah sembarangan.
“Sering lihat ada yang datang pakai mobil lalu melempar bungkusan sampah di sekitar balai desa (Argosari),” keluhnya.

Dukuh Sedayu Sumarjo mengapresiasi sikap Panut. Kendati butuh pendekatan persuasif, Panut bersedia tumpukan sampah dibersihkan. Pria paro baya tersebut juga bersedia beralih profesi. Dari pemungut sampah menjadi petani. “Nanti (sampah) dibuang ke TPST Piyungan,” tambahnya.

Sementara itu, Panut menceritakan, berbagai jenis sampah ini diambil dari satu kompleks perumahan di Desa Argomulyo. Ada 30 penghuni kompleks perumahan yang berlangganan. Rerata penghuni ini membayar uang sampah kepada Panut di kisaran Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu per bulan. Total Panut mengantongi Rp 600 ribu setiap bulannya.
“Di sana (kompleks perumahan) nggak ada tempat pembuangan sampah,” tuturnya.

Kendati kehilangan sumber pencaharian, Panut merasa tak keberatan. Dia siap menekuni profesi sebagai petani. “Pak camat katanya juga mau membangun depo sampah. Nanti bisa ikut juga,” katanya.

Sementara itu, Camat Sedayu Fauzan Mu’arrifin mengungkapkan, tumpukan sampah ini merupakan residu. Berbagai sampah bernilai ekonomis telah dipilah Panut untuk dijual. Kendati begitu, justru residu inilah yang berpotensi memicu berbagai bahaya penyakit.Terkait limbah domestik, bekas sekretaris Satpol PP Bantul ini mewajibkan seluruh kompleks perumahan membangun jejaring sampah. (zam/ila/mg1)