JOGJA – Langkah awal Suara Muhammadiyah (SM) mengubah diri dari pemain bertahan menjadi gelandang atau penyerang dimulai dengan peresmian Grha Suara Muhammadiyah (GSM) di Jalan KHA Dahlan 107 Jogja. Bangunan lima lantai tersebut akan menjadi pusat syiar Islam Berkemajuan.

“Jika sebelumnya jadi bek, tiga tahun belakangan ini kami ubah skenario jadi gelandang atau striker, supaya mencapai angka baru. Perubahan itu sudah terbukti dengan diresmikannya GSM ini,” ujar Direktur Utama SM Deni Asy’ari dalam peresmian GSM Minggu (25/2).

Peresmian GSM dihadiri oleh Ketua DPR RI Bambang Soesatyo, Menkominfo Rudiantara, Mendikbud Muhadjir Effendy, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir, Pemimpin Umum SM Syafii Maarif serta puluhan tamu undangan lainnya.

Deni menambahkan, keberadaaan GSM ini menjadi mata rantai SM yang saat ini berusia 103 tahun. Sejak berdiri 1915 lalu, lanjut dia, SM dimaknai sebagai gerakan literasi yang dibangun oleh para tokoh Muhammadiyah saat itu. “Dan seharusnya generasi hari ini memberikan karya yang lebih baik,” tegasnya.

Syafii Maarif menambahkan, dalam sejarahnya memang selama ini SM hanya bertahan. Tetap cetak tapi tidak melakukan terobosan. Tapi dalam tiga tahun belakangan, lanjut Buya Syafii, dengan dipegang oleh para kader muda Muhammadiyah, SM mampu berkembang pesat.

Salah satu buktinya dengan mampu membangun GSM senilai Rp 15 miliar tanpa perlu berutang ke bank. “Biayanya dari persyerikatan sendiri dan masih akan terus kami kembangkan,” terangnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Haedar Nasir, yang juga mantan pemimpin redaksi SM. Selain sebagai monumen bersejarah, GSM juga akan terus dikembangkan menjadi pusat syiar Islam Berkemajuan.

Setelah peresmian GSM, sudah disiapkan lahan sebagai tempat penginapan warga Muhammadiyah. “Karena hotel di sini (Jogja) masih dilarang, paling tidak kami buat GSM Inn, warga Muhammadiyah yang sedang ke Jogja bisa menginap di situ,” tuturnya.

Haedar menambahkan, GSM juga akan dikembangkan menjadi perpustakaan nasional dan museum nasional Muhammadiyah. Hal itu sejalan dengan perjuangan Muhammadiyah sejak awal berdiri, yaitu tabligh, pendirian Penolong Kesengsaraan Umum (PKU), sekolah, dan taman pustaka. (pra/ila/mg1)