JOGJA – Kepolisian Daerah (Polda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus berupaya menciptakan ketenteraman dan ketertiban di wilayahnya. Berbagai elemen diajak untuk bersama-sama menciptakan kedamaian di wilayah DIY.

Salah satu yang digandeng Polda DIY adalah Gerakan Pemuda Ansor Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan organisasi kepemudaan badan otonom Nahdlatul Ulama ini, Polda DIY bersama-sama membuat pesan damai yang ditujukan kepada masyarakat di DIY.

“Kami ingin DIY tetap kondusif dan aman dari aksi-aksi intoleransi,” ujar Kompol Wiwik Hari Tulasmi, SH saat jumpa pers di Rumah Makan Bale Ayu Jalan Magelang Km 5 belum lama ini.

Wiwik mengungkapkan, peristiwa kekerasan yang terjadi belakangan ini memang melukai predikat Jogja sebagai kota toleransi. Padahal selama ini Jogja dikenal dengan sebutan City of Tolerance.

“Kami ingin mengembalikan citra ini. Dan kami akan gandeng semua pihak. Termasuk Ansor ini,” paparnya.

Wiwik mencontohkan, Jogja pernah dianggap berhasil meredam potensi kekerasan dan konflik antara masyarakat pribumi dan etnis Tionghoa ketika kerusuhan 1998 meletup. Di saat daerah lain diguncang konflik dan kekerasan hebat, Jogja dengan caranya sendiri relatif mampu saling meredam ego kelompok sehingga keadaan yang lebih darurat dapat terhindarkan.

“Jogja juga dianggap berhasil menyatukan keberagaman latar belakang masyarakat. Setiap tahunnya, Jogja kedatangan jutaan pelajar dan mahasiswa yang berasal dari suku, etnis, dan agama berbeda. Dan selama ini hampir tidak pernah ada gesekan,” terangnya.

Wiwik menjelaskan, pesan damai ini diwujudkan salah satuhya dalam sebuah narasi video. Video ini berisi sepenggal cerita tentang perilaku tolong menolong antarumat beragama.

“Ada salah satu umat beragama yang kehabisan bensin di jalan, nah ada umat agama lain yang kebetulan lewat dan punya persediaan bensin. Saat itulah bensin itu diberikan tanpa meminta imbalan apapun,” ungkapnya.

Pesan yang ingin disampaikan dalam penggalan video ini, lanjut Wiwik, adalah berbuat baik itu tanpa memandang latar belakang agama. “Kami cuplik juga ucapan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) yakni untuk berbuat baik tidak pernah ditanyakan agamanya apa,” tuturnya.

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor DIY Syukron Arif Muttaqien menyambut baik langkah yang dilakukan Polda DIY. Ditegaskan Ansor siap untuk menyebarkan pesan damai itu keseluruh komponen NU dan masyarakat.

“Kami akan terus mengawal dan menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang cinta damai. Wajah Islam yang ramah, bukan selalu menampilkan wajah marah,” ujar Syukron.

Diakui, pesan tolerasi dan keberagaman juga terus akan menjadi garis perjuangan oleh para kader NU. Ini dalam rangka menjaga dan merawat bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Dan kebinekaan itu adanya di Jogja. Makanya akan jaga Jogja tetap damai,” tuturnya.

Anggota Satuan Koordinasi Nasional (Satkornas) Banser Badarudin SIP menambahkan, Ansor dan Banser tidak akan menoleransi aksi kekerasan dan intoleransi di bumi Jogjakarta. Jika ada upaya dari berbagai pihak yang membuat Jogja tidak aman, akan berhadapan dengan Banser. “Meskipun begitu kami akan berlaku sesuai dengan ahlakul karimah. Karena kunci utama ajaran Nabi Muhammad adalah Ahlakul Karimah,” tandasnya. (*/ila/mg1)